website statistics Anak Rantau - PDF Books Online
Hot Best Seller

Anak Rantau

Availability: Ready to download

Hepi, perantau bujang yang menyalakan dendam di tepi danau. Martiaz, ayah yang pecah kongsi dengan anaknya di simpang jalan. Datuk, kakek yang ingin menebus dosa masa lalu di tengah surau. Pandeka Luko, pahlawan gila yang mengobati luka lama di rumah usang. Apakah "alam terkembang jadi guru" menjadi amanat hidupnya? Mungkinkan maaf dan lupa menjadi penawar bagi segenap luka? Iku Hepi, perantau bujang yang menyalakan dendam di tepi danau. Martiaz, ayah yang pecah kongsi dengan anaknya di simpang jalan. Datuk, kakek yang ingin menebus dosa masa lalu di tengah surau. Pandeka Luko, pahlawan gila yang mengobati luka lama di rumah usang. Apakah "alam terkembang jadi guru" menjadi amanat hidupnya? Mungkinkan maaf dan lupa menjadi penawar bagi segenap luka? Ikuti petualangan Hepi bersama Attar penembak jitu dan Zen penyayang binatang, bertemu semua tokoh ini, bertualang mendatangi sarang jin, menghadapi lelaki bermata harimau, memburu biduk hantu, dan menyusup ke markas pembunuh. Semuanya demi melunasi sebuah dendam, sebuah rindu.


Compare

Hepi, perantau bujang yang menyalakan dendam di tepi danau. Martiaz, ayah yang pecah kongsi dengan anaknya di simpang jalan. Datuk, kakek yang ingin menebus dosa masa lalu di tengah surau. Pandeka Luko, pahlawan gila yang mengobati luka lama di rumah usang. Apakah "alam terkembang jadi guru" menjadi amanat hidupnya? Mungkinkan maaf dan lupa menjadi penawar bagi segenap luka? Iku Hepi, perantau bujang yang menyalakan dendam di tepi danau. Martiaz, ayah yang pecah kongsi dengan anaknya di simpang jalan. Datuk, kakek yang ingin menebus dosa masa lalu di tengah surau. Pandeka Luko, pahlawan gila yang mengobati luka lama di rumah usang. Apakah "alam terkembang jadi guru" menjadi amanat hidupnya? Mungkinkan maaf dan lupa menjadi penawar bagi segenap luka? Ikuti petualangan Hepi bersama Attar penembak jitu dan Zen penyayang binatang, bertemu semua tokoh ini, bertualang mendatangi sarang jin, menghadapi lelaki bermata harimau, memburu biduk hantu, dan menyusup ke markas pembunuh. Semuanya demi melunasi sebuah dendam, sebuah rindu.

30 review for Anak Rantau

  1. 5 out of 5

    Yunia Damayanti

    "Bagaimana sedih dan merasa terbuang itu melemahkan. Bagaimana terlalu berharap kepada manusia dan makhluk itu mengecewakan. Jadi, kalau merasa ditinggalkan, jangan sedih. Kita akan selalu ditemani dan ditemukan oleh yang lebih penting dari semua ini. Resapkan ini: kita tak akan ditinggalkan Tuhan. Jangan takut sewaktu menjadi orang terbuang. Takutlah pada kita yang membuang waktu. Kita tidak dibuang, kita yang merasa dibuang. Kita tidak ditinggalkan, kita yang merasa ditinggalkan. Ini hanya soal "Bagaimana sedih dan merasa terbuang itu melemahkan. Bagaimana terlalu berharap kepada manusia dan makhluk itu mengecewakan. Jadi, kalau merasa ditinggalkan, jangan sedih. Kita akan selalu ditemani dan ditemukan oleh yang lebih penting dari semua ini. Resapkan ini: kita tak akan ditinggalkan Tuhan. Jangan takut sewaktu menjadi orang terbuang. Takutlah pada kita yang membuang waktu. Kita tidak dibuang, kita yang merasa dibuang. Kita tidak ditinggalkan, kita yang merasa ditinggalkan. Ini hanya soal bagaimana kita memberi terjemah pada nasib kita." Nah, di atas adalah salah satu kutipan yang menurut saya sangat menggetarkan hati dan tentu masih banyak kutipan-kutipan yang berisi life lessons dari novel Anak Rantau. Sinopsis singkat buku ini adalah menceritakan tentang kehidupan anak laki-laki berusia 15 tahun bernama Donwori Bihepi (Hepi) yang sebelumnya adalah seorang anak keturunan Minang yang tinggal di Jakarta, Hepi seorang anak yang nakal dan sering bolos sekolah, tetapi cerdas dan seorang kutu buku. Ketika rapor sekolah Hepi kosong (tidak ada nilai sama sekali), ayah Hepi yang bernama Martiaz terpaksa harus menitipkan anaknya ke rumah orangtuanya di Kampung Tanjung Durian, Sumatera Barat. Dengan alasan mudik, Hepi dan Martiaz berangkat ke Kampung Tanjung Durian tetapi kenyataan yang terjadi adalah Martiaz sengaja ingin menitipkan Hepi agar Hepi tidak nakal dan bolos sekolah lagi. Hepi tidak menginginkan tinggal di Kampung Tanjung Durian, Hepi marah dan dendam kepada ayahnya karena sudah meninggalkan dirinya di kampung bersama kakek dan neneknya. Hepi menjalani hari di Kampung Tanjung Durian dengan berat hati, sambil mengumpulkan uang untuk kembali ke Jakarta. Namun, berbagai kejadian dan pengalaman hidup membuat Hepi mengerti dan mempertanyakan keinginannya kembali ke Jakarta. Plus Pertama, yang saya suka dari buku ini adalah tema yang diangkat oleh Uda Ahmad Fuadi masih sama seperti seri Negeri 5 Menara, yaitu tokohnya yang tidak suka berada di keadaan tertentu tetapi bisa mendapat banyak pelajaran hidup dari kondisi yang tidak disukai tersebut. Kedua, saya suka karena buku ini lebih ceria dan ekspresif dari buku-buku Uda sebelumnya. Saya beberapa kali tertawa membaca adegan-adegan ketika Hepi bersama dua sahabatnya, Atta dan Zen. Ketiga, buku ini memang banyak memberikan pelajaran tentang kehidupan, seperti mencoba memaafkan keadaan, cinta tanah air, cinta kampung halaman, gotong royong, aspek religiusitas juga tidak ketinggalan dan masih banyak lainnya. Keempat, plot twist di akhir buku yang cukup membuat saya kaget dan tidak menduga sebelumya. Minus Pertama, saya menemukan banyak typo dalam penulisan buku ini. Seperti tidak ada spasi. Lumayan, ada kurang lebih 5 saya temukan kesalahan penulisan. Kedua, ada bagian yang membosankan seperti bagian Hepi yang terus menerus mengeluh dan kebanyakan kesal-kesal sendiri. Haha... Kalo keseluruhan buku ini bagus banget, ekspresif dan ceria. Berharap buku ini berseri tapi kayaknya ini buku stand alone ya? :((( Pengen tahu kelanjutan cerita Hepi dan Puti, Pak Martiaz dan Ibu Ibet haha...Selain itu pengen lebih dapet pelajaran hidup dari Pandeka Luko lagi.

  2. 5 out of 5

    Sharulnizam Yusof

    Ada perasaan yang berbaur sepanjang membaca buku ini. Pertamanya; saya bagaikan kembali ke satu masa yang lalu dan menyaksikan kehidupan nenek moyang saya berwakilkan Hepi, Martiaz, Pak Datuk dan kehidupan di kampung Tanjung Durian. Anak Minang yang menyanjung adat, menggenggam agama dalam hidup. Saya jadi penasaran mahu tahu, bagaimana kehidupan mereka pada zaman dahulu, yang hidup betul-betul bersendikan adat. Dan juga saya mahu tahu, kenapa akhirnya nenek moyang saya merantau ke Tanah Melayu. S Ada perasaan yang berbaur sepanjang membaca buku ini. Pertamanya; saya bagaikan kembali ke satu masa yang lalu dan menyaksikan kehidupan nenek moyang saya berwakilkan Hepi, Martiaz, Pak Datuk dan kehidupan di kampung Tanjung Durian. Anak Minang yang menyanjung adat, menggenggam agama dalam hidup. Saya jadi penasaran mahu tahu, bagaimana kehidupan mereka pada zaman dahulu, yang hidup betul-betul bersendikan adat. Dan juga saya mahu tahu, kenapa akhirnya nenek moyang saya merantau ke Tanah Melayu. Sedikit sebanyak, saya "kenal" dengan budaya dan asal-usul. Keduanya; oleh kerana buku ini sudah "dekat" di hati, saya jadi seronok dan teruja menelusuri helai demi helai cerita dari bumi ranah Minang ini. Lagipun, ada perkara-perkara yang ditempuhi Hepi (dan rakan-rakan) juga pernah saya alami satu ketika dahulu. Seterusnya perihal kekeluargaan yang punya pasang surut, antara tiga keturunan laki-laki! Sang datuk yang keras kepala, ayah yang merajuk dan cucu yang memberontak. Cantik susunan cerita A. Fuadi! Dan sudah tentu, cerita kekeluargaan begitu saja mudah menjadikannya bosan. Lalu kesepakatan antara Hepi, Zen dan Attar menjadi tunjang isi cerita ini. Mereka menjadi akrab, dan sama-sama "mengembara" di dalam kampung sendiri. Perseteruan mereka membanteras Lenon dan kuncu-kuncunya walaupun nampak biasa, tetapi aksinya lain. Lain boi, lain! Bagi saya, sekurang-kurangnya. Oh! Aktiviti "Berdirinya Surau Kami" bagus kalau diteruskan masa kini. Sangat elok dan saya sendiri mahu menyertai kalau ada khas untuk warga tua. Hahahaha! Buku ini ada cerita. Mungkin biasa-biasa saja bagi orang lain tapi bagi saya yang dapat "berhubung" dengan kisah di dalamnya, ianya memberi kepuasan. Dan kenangan. Terima kasih, A. Fuadi. Saya jangka, akan ada buku seterusnya. Bongkar masih hilang, Puti masih belum tahu isi hatinya dan Martiaz, mungkin akan ada hubungan lanjut dengan Ibu Ibeth.

  3. 4 out of 5

    Hestia Istiviani

    Ahmad Fuadi mempunyai kekuatan untuk menuturkan kisah secara rapi dan runtut. Plotnya tersusun minim celah sehingga pembaca bisa mengikuti dengan nyaman. Tidak terburu-buru dan tidak juga dibuat mengantuk. Begitu pula dengan penokohannya yang masing-masing tokoh sentral memiliki latar belakang yang cukup kuat untuk dikembangkan. Resensi lengkapnya Ahmad Fuadi mempunyai kekuatan untuk menuturkan kisah secara rapi dan runtut. Plotnya tersusun minim celah sehingga pembaca bisa mengikuti dengan nyaman. Tidak terburu-buru dan tidak juga dibuat mengantuk. Begitu pula dengan penokohannya yang masing-masing tokoh sentral memiliki latar belakang yang cukup kuat untuk dikembangkan. Resensi lengkapnya

  4. 4 out of 5

    omnivoreader

    Akhirnya selesai juga baca novel ini. Khas Ahmad Fuadi, seru dan enak dibaca. Menceritakan Hepi, bocah laki-laki bandel yang dikirim ayahnya ke kampung halaman. Ceritanya sih enak dibaca, tapi naik-turun untuk pace-nya. "Itulah hebatnya mereka, membunuh kepribadian orang dengan menciptakan cerita-cerita bohong. Fitnah yang diceritakan dan dikipasi terus sampai marak jadi api unggun." hlm. 253 "Aku heran kenapa negeri ini sekarang percaya kepada yang tidak layak dipercaya. Kabar di jalan, di lapau, Akhirnya selesai juga baca novel ini. Khas Ahmad Fuadi, seru dan enak dibaca. Menceritakan Hepi, bocah laki-laki bandel yang dikirim ayahnya ke kampung halaman. Ceritanya sih enak dibaca, tapi naik-turun untuk pace-nya. "Itulah hebatnya mereka, membunuh kepribadian orang dengan menciptakan cerita-cerita bohong. Fitnah yang diceritakan dan dikipasi terus sampai marak jadi api unggun." hlm. 253 "Aku heran kenapa negeri ini sekarang percaya kepada yang tidak layak dipercaya. Kabar di jalan, di lapau, di pasar, kabar bisik-bisik, kabar ambuih-ambuih. Semakin beredar, kabar semakin bertambah bunga-bunganya. Tidak kayak tidak miskin, cerdik pandai, senangnya menyebar kabar fitnah tidak jelas ini." hlm. 254 Kutipan di atas menunjukkan gue paling suka dengan karakter Pandeka Luko. 3.5 bintang

  5. 5 out of 5

    Lailaturrahmi

    Buat saya, buku ini mengena karena 1. berlatar Minangkabau, 2. kisah pencarian jati diri, 3. pertemuan dan perlintasan antara orang urban dan orang kampung dengan segala dinamikanya. Sebagai orang yang belum pernah tinggal lama di ibukota, saya masih mengira-ngira seperti apa rasanya menjadi orang rantau yang pulang sesekali sambil membawa oleh-oleh dan cerita kesuksesan. Kendati demikian, saya sadar pula bahwa rantau bisa mengubah orang kampung dan kampung itu sendiri. Jika Anda bingung maksud Buat saya, buku ini mengena karena 1. berlatar Minangkabau, 2. kisah pencarian jati diri, 3. pertemuan dan perlintasan antara orang urban dan orang kampung dengan segala dinamikanya. Sebagai orang yang belum pernah tinggal lama di ibukota, saya masih mengira-ngira seperti apa rasanya menjadi orang rantau yang pulang sesekali sambil membawa oleh-oleh dan cerita kesuksesan. Kendati demikian, saya sadar pula bahwa rantau bisa mengubah orang kampung dan kampung itu sendiri. Jika Anda bingung maksud saya, akan sangat baik jika Anda baca buku ini sendiri. Namun tenang saja, Anak Rantau bukan buku diskursus urban vs rural, tradisi vs modernitas, dan sebagainya, melainkan kisah tentang Hepi, si anak rantau yang ditinggal ayahnya di kampung dan menjalani hidupnya dengan berkelindan sedih, marah, dan dendam di sana pada awalnya. Bersama Zen si penyayang binatang (yang agak mengingatkan saya dengan Lennie Small di Of Mice and Men) dan Attar si jago ketapel, hari-hari Hepi di kampungnya, Tanjung Durian, menjadi semakin berwarna meski sering dimarahi Datuk Marajo, kakeknya yang berwatak keras. Datuk Marajo pun sehari-harinya berusaha untuk menukar segantang dosa masa lalu dengan keping demi keping amal saleh sebagai penebusnya. Pada akhirnya tampak jelas apa yang sebelumnya tersembunyi. Bahwa yang dirasakan Hepi selama ini bukan dendam, melainkan rindu. Bukan ambisi untuk membuktikan diri di hadapan sang Ayah, melainkan semangat untuk belajar dari alam dan orang-orang di sekitarnya. Keseharian trio Hepi, Attar, dan Zen juga mengingatkan saya dengan film Surau&Silek (dan mudah-mudahan kisah Anak Rantau ini juga bisa menyapa penonton dari layar lebar).

  6. 4 out of 5

    Truly

    Blm.sempat bkn review. Semula saya mengira bakalan bertemu dengan aosok Alif versi lain. Ternyata kisahnya cukup bisa berbeda dengan seri sebelumnya. Urusan pentingnya pendisikan tetaplah menjadi inti kisah ini. Sang tokoh, Hepi, memperkenalkan saya dgn budaya Minang yang kental. saya seakan ikut mendengarkan diskusi.seru para datuk. Memahami berbagai petuah yang ada. seandainya penulis pembuat sosok Hepi tidak begitu saja mudah menerima keadaan ditinggal di kampung, tentu kisahnya makin seru. Misal Blm.sempat bkn review. Semula saya mengira bakalan bertemu dengan aosok Alif versi lain. Ternyata kisahnya cukup bisa berbeda dengan seri sebelumnya. Urusan pentingnya pendisikan tetaplah menjadi inti kisah ini. Sang tokoh, Hepi, memperkenalkan saya dgn budaya Minang yang kental. saya seakan ikut mendengarkan diskusi.seru para datuk. Memahami berbagai petuah yang ada. seandainya penulis pembuat sosok Hepi tidak begitu saja mudah menerima keadaan ditinggal di kampung, tentu kisahnya makin seru. Misalnya Hapi nekat kabur berjalan kaki sampai mana, lalu kehabisan tenaga. Sementara nyaris seluruh isi desa mencarinya.

  7. 5 out of 5

    Jiwa Rasa

    A Fuadi tidak pernah mengecewakan. Cerita yang menarik

  8. 5 out of 5

    Nining Sriningsih

    bisa pinjam di bookabuku.com yaa =) "alam semesta ini penuh kejutan. coba kau amati dan renungkan. ambil pelajaran dari semuanya. itulah yg disebut oleh orang-orang tua kita di Minang, alam takambang jadi guru. alam terkembang jadikan guru." (hal 18) "belum pernah dia menangis seperti ini seumur hidupnya. menangislah dgn puas, katanya kepada dirinya sendiri. ini hanya di antara kita saja, katanya kepada dirinya lagi. tiada yg akan mendengar kita terisak menggerung karena deru air. tiada yg akan tah bisa pinjam di bookabuku.com yaa =) "alam semesta ini penuh kejutan. coba kau amati dan renungkan. ambil pelajaran dari semuanya. itulah yg disebut oleh orang-orang tua kita di Minang, alam takambang jadi guru. alam terkembang jadikan guru." (hal 18) "belum pernah dia menangis seperti ini seumur hidupnya. menangislah dgn puas, katanya kepada dirinya sendiri. ini hanya di antara kita saja, katanya kepada dirinya lagi. tiada yg akan mendengar kita terisak menggerung karena deru air. tiada yg akan tahu air mata kita banjir karena kita sedang basah kuyup di bawah curahan pancuran." (hal 160) "kita boleh ditinggalkan, tapi jangan mau merasa ditinggalkan. kita boleh dibuang, tapi jangan merasa dibuang." (hal 235) "bagaimana terlalu berharap kpd manusia & makhluk itu mengecewakan. jadi, kalau merasa ditinggalkan, jangan sedih. kita akan selalu ditemani dan ditemukan oleh yg lebih penting dari semua ini. resapkan ini: kita tak akan ditinggalkan Tuhan. jangan takut sewaktu menjadi orang terbuang. takutlah pada kita yg membuang waktu. kita tdk dibuang, kita yg merasa dibuang. kita tdk ditinggalkan, kita yg merasa ditinggalkan." (hal 255-256) "dia marah karena sayang. dia dendam karena rindu." (hal 347) selesai membaca novel ini, bikin q merenung, apalagi quote terakhir.. terlalu banyak dendam yg tersimpan di hati ini.. >,< petualangan Hepi sbg "anak rantau" seru dan mendebarkan.. smoga q jg bs "maafkan, maafkan, maafkan. lupakan" :D

  9. 4 out of 5

    Riska Amaliah

    Hal pertama yang menarik buat saya saat awal membaca Anak Rantau adalah: 'Eh, Hepi? Bagaimana bisa seorang anak laki-laki diberi nama Hepi? Pasti ada alasan tertentu mengapa anak ini diberi nama Hepi oleh orangtuanya.' Dan benar saja, Hepi merupakan kependekan dari Donwori Bihepi (cmiiw). Kisah berawal dari Hepi si anak laki - laki yang haus perhatian keluarganya (ayah & kakaknya) sehingga dia berulah & dikirim ke kampung ayahnya di Sumatera Barat untuk di didik oleh kakek & neneknya. Dari sinilah Hal pertama yang menarik buat saya saat awal membaca Anak Rantau adalah: 'Eh, Hepi? Bagaimana bisa seorang anak laki-laki diberi nama Hepi? Pasti ada alasan tertentu mengapa anak ini diberi nama Hepi oleh orangtuanya.' Dan benar saja, Hepi merupakan kependekan dari Donwori Bihepi (cmiiw). Kisah berawal dari Hepi si anak laki - laki yang haus perhatian keluarganya (ayah & kakaknya) sehingga dia berulah & dikirim ke kampung ayahnya di Sumatera Barat untuk di didik oleh kakek & neneknya. Dari sinilah kisah petualangan Hepi dimulai. Bacalah. Ini bukan kisah petualangan anak-anak seperti yang saya kira pada awalnya. Ini kisah tentang memaafkan & berdamai dengan takdir. Kalian akan menemukan banyak sekali pelajaran hidup didalam novel ini (ini hal yang saya sukai dari membaca novel), kalian akan dibuat tertawa, sedih, gemas juga deg-degan oleh ulah Hepi, Attar dan Zen, kalian juga akan mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat Sumatera Barat seperti melihatnya langsung dengan mata sendiri. Walaupun memang, ada lumayan banyak typo didalam penulisannya. Sungguh, 2 tahun saya tahu istilah "alam terkembang jadi guru" saat belajar Sastra Indonesia di SMA baru lewat novel ini saya memahami istilah tersebut.

  10. 4 out of 5

    Nur Afifah

    Cerita berawal dari kisah Hepi yang nakal, sehingga dia harus "dibuang" oleh bapaknya—Martiaz—ke kampung halaman dengan tujuan agar Hepi dididik oleh kakeknya, tentunya secara islamiyah. Tentu Hepi marah, yang selanjutnya berujung ke usahanya menabung agar ia bisa balik ke Jakarta—rumahnya. Pekerjaan apapun ia jalani mulai dari kurir hingga tukang cuci piring. Tak hanya itu, dia juga dididik di pendidikan surau ala warga Sumatera yang diemban oleh kakeknya. Nama kegiatannya "Berdirinya Surau Kami Cerita berawal dari kisah Hepi yang nakal, sehingga dia harus "dibuang" oleh bapaknya—Martiaz—ke kampung halaman dengan tujuan agar Hepi dididik oleh kakeknya, tentunya secara islamiyah. Tentu Hepi marah, yang selanjutnya berujung ke usahanya menabung agar ia bisa balik ke Jakarta—rumahnya. Pekerjaan apapun ia jalani mulai dari kurir hingga tukang cuci piring. Tak hanya itu, dia juga dididik di pendidikan surau ala warga Sumatera yang diemban oleh kakeknya. Nama kegiatannya "Berdirinya Surau Kami". Dimana anak-anak seumuran Hepi tidur di surau, berkegiatan bermanfaat seperti mengaji, azan, dan berlatih silat. Awalnya memang sulit, namun berbagai hal terjadi sehingga program "Berdirinya Surau Kami" benar-benar banyak peminatnya. Salah dua tokoh yang aku suka dalam cerita ini adalah Kakek dan Pandeka Luko. Kakek yang tak gentar mendidik anak-anak kampung untuk menjadi remaja yang islamiyah. Sedang Pandeka Luko yang memendam dendamnya sendiri serta menguburnya dalam-dalam demi kebaikan, dan seorang penulis. Latar yang paling aku sukai adalah Sarang Elang dan perpus milik Pandeka. Ceritanya asik, menggunakan kata-kata perandaian yang cantik, deskripsi tentang budayanya juga lengkap. Jempol deh 👍. . Bagi anak rantau, wajib baca! 😎

  11. 5 out of 5

    Tika We

    This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here. Membaca Anak Rantau seperti membaca petualangan Empat Sekawan versi Minang. Ceritanya melibatkan emosi melankoli sekaligus petualangan detektif kampung cilik Hepi, Attar, dan Zen. Dibuka dengan adegan Hepi digantung preman, novel ini nyaris sukses dengan twist plotnya, namun malah tertebak di seperempat bagian akhir ketika eyang Hepi menyambangi rumah Pendekar Luko. A. Fuadi (seperti biasa) membudidayakan taman bunga kata-kata dalam tulisannya. Banyak istilah berbahasa Indonesia yang kurang famil Membaca Anak Rantau seperti membaca petualangan Empat Sekawan versi Minang. Ceritanya melibatkan emosi melankoli sekaligus petualangan detektif kampung cilik Hepi, Attar, dan Zen. Dibuka dengan adegan Hepi digantung preman, novel ini nyaris sukses dengan twist plotnya, namun malah tertebak di seperempat bagian akhir ketika eyang Hepi menyambangi rumah Pendekar Luko. A. Fuadi (seperti biasa) membudidayakan taman bunga kata-kata dalam tulisannya. Banyak istilah berbahasa Indonesia yang kurang familiar bagi saya, apalagi novel tersebut kental dengan kosakata Minangkabau. Ada plot cerita yang dirasa nggak perlu, menurut saya, yaitu masa lalu kelam eyangnya Hepi. Terlalu memaksakan kalau jadi latar belakang ketaatannya pada agama. Kalau cerita gratifikasi itu dihilangkan, tidak akan mengubah esensi cerita, kami cukup puas menerima bahwa eyang Hepi tipikal orangtua konservatif pada umumnya. Untung saja A. Fuadi membubuhkan detail2 cerita dengan pas dan logis. Ia pun cukup lihai menggambarkan emosi tokoh sekaligus mengaduk emosi pembaca.

  12. 5 out of 5

    Harumichi Mizuki

    Ya Allah. Indah nian novel ini! Aaaaaa! Ya Allah Ya Rabb. Semoga novel ini berumur panjang dan bisa terduplikasi jadi banyak media. WAG SatuPena itu, pengin gabung huahauahua. Pengin segrup WA sama Ahmad Fuadi hauahauah. Akademi Menulis 5 Menara... ada, ya? Cerita novel ini adalah... aaaaaa... nanti diterusin kalau udah di laptop, ngetiknya lebih enak. Aaaa. Ya Allah....

  13. 5 out of 5

    Erick Paramata

    Tadinya saya pikir ini buku tentang seorang mahasiswa yang merantau kemudian berjuang di tanah rantau untuk semangkuk mie rebus di akhir bulan. Ternyata salah. Ini cerita tentang seorang anak yang merantau di kampung halaman bapaknya. Ada banyak petualangan menarik, banyak belajar juga soal adat dan budaya Minang. Menarik. :)

  14. 5 out of 5

    Romey Linda

    Awalnya baca buku ini sedikit bingung karena ada beberapa kosakata yang tidak begitu aku pahami. Namun, semakin dibaca semakin larut dalam ceritanya. Alam mengajarkan banyak hal bagi kita. Tingkah Hepi yang songong dan rasa ingin tahu yang begitu besar membuat dia dalam masalah. Namun, satu hal yang sangat saya sukai dari Hepi adalah ketika dia melihat buku matanya langsung berbinar-binar.. Ada dahaga/hasrat untuk segera "melahap" buku-buku tersebut. Benci dan rindu beda tipis. Jangan biarkan dend Awalnya baca buku ini sedikit bingung karena ada beberapa kosakata yang tidak begitu aku pahami. Namun, semakin dibaca semakin larut dalam ceritanya. Alam mengajarkan banyak hal bagi kita. Tingkah Hepi yang songong dan rasa ingin tahu yang begitu besar membuat dia dalam masalah. Namun, satu hal yang sangat saya sukai dari Hepi adalah ketika dia melihat buku matanya langsung berbinar-binar.. Ada dahaga/hasrat untuk segera "melahap" buku-buku tersebut. Benci dan rindu beda tipis. Jangan biarkan dendam menguasai diri kita. Orang-orang baik teruslah berbuat dan jangan hanya berdiam diri saja.

  15. 4 out of 5

    Vivin

    Pertama kali tahu A. Fuadi dari buku Negeri 5 Menara yang langsung buat saya jatuh hati dengan tulisannya. Buku yang ditulis oleh Beliau selalu sarat dengan pesan moral dan ajaran-ajaran yang menurut saya sangat bagus dan dikemas dengan bahasa yang menarik. Hal ini jarang sekali saya temukan di novel-novel zaman sekarang yang seringnya hanya berisi percintaan - roman picisan saja. Dan A. Fuadi membuktikannya lagi melalui novel ini. Dengan bahasa yang nikmat untuk dibaca, jalan cerita yang menari Pertama kali tahu A. Fuadi dari buku Negeri 5 Menara yang langsung buat saya jatuh hati dengan tulisannya. Buku yang ditulis oleh Beliau selalu sarat dengan pesan moral dan ajaran-ajaran yang menurut saya sangat bagus dan dikemas dengan bahasa yang menarik. Hal ini jarang sekali saya temukan di novel-novel zaman sekarang yang seringnya hanya berisi percintaan - roman picisan saja. Dan A. Fuadi membuktikannya lagi melalui novel ini. Dengan bahasa yang nikmat untuk dibaca, jalan cerita yang menarik, dan pesan moral yang sangat baik, saya tidak ragu memberikan bintang 5 untuk novel ini.

  16. 4 out of 5

    Haryadi Yansyah

    Anak Rantau [2017] Donwori Bihepi aka Hepi adalah anak yang tumbuh tanpa didikan seorang ibu. Dia hanya tinggal bersama Martiaz -ayahnya yang mantan preman, dan seorang kakak perempuan. Ayahnya kini sudah bertobat dan membuka pabrik percetakan di Jakarta. Kakaknya beranjak dewasa yang mulai sibuk dengan segala urusan di rumah, kuliah dan juga mengurusi pabrik sehingga Hepi kadang merasa kurang diperhatikan. Anak cerdas ini melancarkan sebuah "balas dendam" dengan cara membandel di sekolah. Bukan m Anak Rantau [2017] Donwori Bihepi aka Hepi adalah anak yang tumbuh tanpa didikan seorang ibu. Dia hanya tinggal bersama Martiaz -ayahnya yang mantan preman, dan seorang kakak perempuan. Ayahnya kini sudah bertobat dan membuka pabrik percetakan di Jakarta. Kakaknya beranjak dewasa yang mulai sibuk dengan segala urusan di rumah, kuliah dan juga mengurusi pabrik sehingga Hepi kadang merasa kurang diperhatikan. Anak cerdas ini melancarkan sebuah "balas dendam" dengan cara membandel di sekolah. Bukan menjadi anak bebal yang suka tawuran dsb, tapi dengan tidak mengisi satupun jawaban saat ujian, padahal dia mampu melakukannya. Dia ingin ayahnya marah. Dia ingin ayahnya memperhatikannya. Alih-alih mengamuk seperti bayangannya, ayahnya hanya diam seribu bahasa. Dia bahkan mendapatkan hadiah pulang kampung ke desa ayahnya di Sumatra Barat sana. Tempat yang selalu ia rengekkan tapi tak juga dipenuhi ayahnya. "Ini jelas kemenangan yang terlalu gampang. Bukan perhatian semacam ini yang ia bayangkan." Hal.11. Dari sini, dan dari judulnya kita sudah tahu apa yang terjadi pada Hepi, bukan? yak benar. Hepi kemudian ditinggalkan di desa bersama kakek dan neneknya. Hepi marah luar biasa dan dia merasa terbuang. Ayahnya pun sebetulnya tak tega, namun dia meneguhkan hati dengan harapan Hepi akan belajar nilai-nilai kehidupan di kampung. "Jika kau mau pulang, carilah sendiri uang untuk ongkos ke Jakarta," kata ayahnya. Sejak itu, Hepi bertekat untuk membuktikan bahwa ia bisa. Di bawah pengawasan kakeknya yang tegas dan neneknya yang lembut, Hepi berupaya mencari pekerjaan. Bersama dua teman barunya -Attar dan Zen, Hepi bekerja di sebuah warung makan. Apa saja dia lakukan dimulai mencuci piring, melayani pembeli, dsb. Tapi upahnya sangat sedikit. Makanya, dia berani menerima tawaran Bang Lenon menjadi asisten pribadi. Kakeknya tak suka, karena Lenon adalah bandit besar yang kembali ke kampung karena sudah bertobat. Kakeknya masih belum mempercayai itu. Di kampung, ada juga sebuah rumah yang dihuni oleh Pandeka Luko, sosok misterius yang dipercaya memiliki kekuatan gaib dan sering mencelakai orang. Ini Hepi ketahui saat tak ada yang berani mengambil bola yang tak sengaja masuk ke perkarangan Pandeka Luko. "Berbahaya! gak ada yang berani masuk ke dalam sana," ujar sahabatnya. Kehidupan hepi berjalan lambat di kampung. Dia ingin sekali pulang ke Jakarta. Naas, uang yang selama ini ia kumpulkan hilang bersamaan beberapa barang di rumah. Kampung mereka menjadi tidak aman! dan, mereka berusaha untuk mencari tahu siapa dalang dibalik semua kejadian ini. Endingnya sendiri pasti sudah ketebak, ya. Tapi, yang spesial dari buku ini ialah A Fuadi dapat meramu kisah drama dan misteri dengan mengaitkannya terhadap kebudayaan di Sumatra Barat. Aku takjub loh dengan deskripsinya soal perkampungan, adat istiadat (misalnya acara khataman Alquran yang ternyata semeriah itu), kebiasaan merantau hingga menyentuh kisah PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang dulu ada di Sumatra Barat di tahun 1958. Sebagaimana trilogi Negeri 5 Menara, aku kembali merasakan kekhasan yang sama dari diksi-diksi yang digunakan oleh A.Fuadi. Sempat terbersit, "ya ampun ingin rasanya bisa nulis kayak gini." Aku suka banget buku ini. Dibeli setahun lebih lalu, tapi aku baru menuntaskannya sekarang hehe. Dulu, pas baca beberapa puluh halaman, bukunya dipinjam dan aku tak tega hati menolak. Baru semalam aku menutaskan buku setebal 360-an halaman ini. Skor akhir 9/10 Beberapa kutipan yang aku suka (dan baru tertandai setelah menjelang akhir buku hehe). "...bagaimana sedih dan merasa terbuang itu melemahkan. Bagaimana terlalu berharap kepada manusia dan makhluk itu mengecewakan." Hal.255 "Rindu yang selama ini dia selubungi erat-erat dengan sedih dan marah. Dia marah karena sayang. Dia dendam karena rinu. Alangkah anehnya perasaan itu bekerja. Dia membolak-balik logika suka-suka, dan dia ternyata mau saja diperdaya." Hal.347.

  17. 5 out of 5

    Ahmadin Lan

    Judul buku: Anak Rantau Penulis: A. Fuadi Penerbit: PT Falcon Terbit: Cetakan keempat, Desember 2017 Harga: Rp90.000 Tebal: 382 halaman Ukuran: 14 x 20.5 cm Cover: Softcover ISBN: 978-602-605114-9-3 Merantau di Tanah Kelahiran Ayahku Setelah sukses dengan novel “Negeri Lima Menara”, A Fuadi kembali membuat novel yang berjudul “Anak Rantau”. Novel karya A. Fuadi ini menceritakan keinginan anak yang merasa di buang ke kampung halaman ayahnya untuk kembali ke tanah kelahirannya. Keinginan tokoh utama untuk Judul buku: Anak Rantau Penulis: A. Fuadi Penerbit: PT Falcon Terbit: Cetakan keempat, Desember 2017 Harga: Rp90.000 Tebal: 382 halaman Ukuran: 14 x 20.5 cm Cover: Softcover ISBN: 978-602-605114-9-3 Merantau di Tanah Kelahiran Ayahku Setelah sukses dengan novel “Negeri Lima Menara”, A Fuadi kembali membuat novel yang berjudul “Anak Rantau”. Novel karya A. Fuadi ini menceritakan keinginan anak yang merasa di buang ke kampung halaman ayahnya untuk kembali ke tanah kelahirannya. Keinginan tokoh utama untuk pulang melunasi sebuah dendam. Donwori Bihepi biasa di panggil Hepi adalah tokoh utama di Novel ini. Ayahnya Martiaz yang seorang perantau dan kakak perempuannya Dora yang sudah SMA hanya berbeda beberapa tahun dengannya yang SMP dan berumur 15 tahun. Menjadi piatu sejak kecil membuatnya iri dengan kebanyakan teman-temannya yang mendapat perhatian lebih dari ibu mereka. Ayahnya yang sibuk dengan perusahaan percetakannya dan kakaknya yang sibuk dengan urusannya sendiri sejak SMA tak sempat mendidik hepi dengan baik. Jadilah ia anak nakal yang sering bolos sekolah membuat nilainya jelek. Setelah melihat nilai rapor Hepi yang kosong membuat bapaknya merasa gagal mendidik anaknya dan memutuskan membawa anaknya pulang ke tanah kelahirannya yang telah ia tinggal begitu lama. Setelah beberapa minggu di Kampung Tanjung Durian tinggal bersama ayahnya, kakeknya Datuk Marajo Labiah dan neneknya Salisah, Hepi menemukan teman Baru Attar dan Zen. Ayahnya juga memutuskan untuk menitipkan anaknya dengan Ayah dan Ibunya di kampung. Hepi yang merasa di buang begitu dendam pada ayahnya. Maka Hepi memutuskan untuk mencari uang di kampung demi membalaskan dendamnya pulang ke Jakarta dengan tiket pesawat. Setelah melakukan petualangan bersama dua sahabatnya, mencari uang sana sini untuk sebuah dendam. Lalu setelah semua ini apakah ditinggalkan masih sebuah dendam? Setelah kenangan bersama teman-temannya? Apakah kerja kerasnya hanya untuk sebuah dendam? Ataukah itu semua hanyalah sebuah rindu? Begitulah yang dipikirkan Hepi setelah berhasil mengumpulkan uang yang ia cari dengan kerja keras. Setelah pengalaman hidupnya di kampung membuatnya mempertanyakan keinginanya untuk membalaskan dendamnya. Novel ini menceritakan petualangan bujang rantau di tanah minang. Anak yang merantau di tanah kelahiran bapaknya sendiri. Menceritakan pentingnya memaafkan dan dendam yang sia-sia. Tentang arti penting persahabatan, kerja keras, dan bahkan masa lalu yang telah terlupakan. novel ini menceritakan tentang lingkungan hidup yang memberikan banyak pelajaran dan wawasan kepada tokoh utama “Alam terkembang jadi guru” yang menjadi amanat hidup Hepi dan kawan-kawan. Novel ini juga menceritakan tentang budaya orang minang yang sekarang sudah mulai hilang. Hanya saja masih ada kata-kata yang menurut saya dilebih-lebihkan seperti “Sarang jin” ataupun “Biduk hantu”, alur yang tidak begitu menarik dan datar di awal cerita yang hanya memuat masa lalu tokoh utama dan budaya orang minang. Masih ada juga beberapa kesalahan penulisan kata dalam novel ini. Dari cover buku warnanya cukup menarik dan menggambarkan anak yang ditinggal di suatu tempat yang terlihat bukanlah sebuah kota sehingga kurang sesuai dengan judulnya. Ataupun mungkin ada arti lain dari “Anak Rantau” pada novel ini. Novel ini saya rekomendasikan untuk pembaca kalangan umum. Melalui novel ini, kita dapat merasakan petualangan di tanah minang sekaligus kebiasaan dan budayanya.

  18. 5 out of 5

    Felita

    Bisa dibilang membaca buku ini, setelah ada kesempatan bertemu sang pengarang di program TV Kick Andy. Masih ingat betul ketika selesai show, aku maju ke atas panggung dan minta berfoto. Deg-deg-deg an pasti, kubilang " Pak Fuady, saya sudah membaca seri buku bapak negeri 5 menara " " Sudah kamu baca buku saya yang terbaru ? Anak rantau ?" "Belum pak." "Coba baca deh, saya buat cerita itu dengan gaya yang berbeda dari negeri 5 menara" Dan di sinilah, setelah beres membaca, kupikir beginilah seharus Bisa dibilang membaca buku ini, setelah ada kesempatan bertemu sang pengarang di program TV Kick Andy. Masih ingat betul ketika selesai show, aku maju ke atas panggung dan minta berfoto. Deg-deg-deg an pasti, kubilang " Pak Fuady, saya sudah membaca seri buku bapak negeri 5 menara " " Sudah kamu baca buku saya yang terbaru ? Anak rantau ?" "Belum pak." "Coba baca deh, saya buat cerita itu dengan gaya yang berbeda dari negeri 5 menara" Dan di sinilah, setelah beres membaca, kupikir beginilah seharusnya budaya diperkenalkan dalam cerita fiksi. Budaya Minang sangat kental dalam cerita ini, kembali membuat nostalgia, bagaimana kehidupan anak kampung yang penuh dengan nilai adat. Hepi, anak Jakarta, ditinggalkan bapaknya di kampung halamannya. Gara-garanya, Hepi bandel di sekolahnya. selalu bolos. Bapaknya hilang akal buat mendidik Hepi. Maka Martiaz, bapaknya Hepi meminta tolong ke ayahnya di kampung untuk mendidik Hepi. Kebetulan watak kakeknya Hepi ini sangat keras. Martiaz berharap Hepi bisa belajar banyak. Sementara Hepi, dia kesal ditinggalkan bapaknya di kampung. Sebetulnya Hepi selalu bolos itu lantaran pengen bapaknya memperhatikannya lagi. ngga disangka, kenakalannya itu jadi back fire, Hepi ditinggalin ama kakeknya yang keras. kekesalan ini bikin Hepi membulatkan tekad buat ngumpulin uang untuk bisa beli tiket pesawat ke Jakarta. Konfliknya adalah bagaimana Hepi berjuang mencari pekerjaan kecil-kecilan dan beradaptasi dengan hidup di kampung. ngga ada ditampilkan teknologi handphone, bikin cerita ini bebas dari penggunaan gadget. rasanya kembali ke tahun 90-an. bikin kangen ama kampung halaman sendiri. hiks.... Suka deh membaca kegiatan Hepi. Main di danau, belajar agama dan silat ama kakeknya, dan mencoba mendekati Pandeka Luko, orang misterius di kampung. Ahmad Fuady berhasil membuat pembaca bernostalgia dengan suasana kampung. Gaya story tellingnya lebih baik dibanding negeri 5 menara. tetapi alurnya agak lambat hampir sepertiga buku, yang kalau pembaca seperti aku butuh kesabaran untuk menantikan apa klimaks cerita ini. Terakhir ceritanya tentu happy ending. tapi sebagian kecil dari endingnya, mengingatkanku dengan cerita negeri lima menara, di mana Alif yang masih tinggal di kampung, berusaha belajar biar keterima sekolah. Buku ini recommended buat bernostalgia dengan suasana tradisional kampung, khususnya Minang. Plus cerita dengan gaya seperti Enid Blyton atau bocah petualang. Saat Hepi berpetulang di kampungnya sampai dia menemukan jaringan narkoba. Aku berandai-andai, dari sini Hepi ke depannya jadi seperti Inspektur Saldi. 4 bintang

  19. 4 out of 5

    Niki Yuntari

    Ini adalah novel pertama A. Fuadi yang saya baca. Saya tertarik membaca karena terpikat dengan cover-nya yang entah mengapa menggoda saya untuk membaca buku ini. Covernya bagus. Ternyata gambar sampul ini adalah ilustrasi Hepi, ketika di tinggalkan oleh ayahnya pulang ke Jakarta. Wah, ternyata sampul ini tak sekadar sampul biasa yang tiada makna. Dari gambar sampulnya saja sudah merepresentasikan isi cerita novel ini. Saya agak terkecoh dengan judul novel ini. Anak Rantau. Saya pikir novel ini me Ini adalah novel pertama A. Fuadi yang saya baca. Saya tertarik membaca karena terpikat dengan cover-nya yang entah mengapa menggoda saya untuk membaca buku ini. Covernya bagus. Ternyata gambar sampul ini adalah ilustrasi Hepi, ketika di tinggalkan oleh ayahnya pulang ke Jakarta. Wah, ternyata sampul ini tak sekadar sampul biasa yang tiada makna. Dari gambar sampulnya saja sudah merepresentasikan isi cerita novel ini. Saya agak terkecoh dengan judul novel ini. Anak Rantau. Saya pikir novel ini menceritakan lika-liku kehidupan sekorang perantau. Namun saya salah total. Novel ini justru menceritakan seorang anak rantau yang pulang ke kampungnya setelah sekian lama. Prolog dibuka dengan kisah Hepi dan kedua kawannya, Attar dan Zen yang tengah tegang menanti akhir dari nasib mereka. Saya menyukai cara penulis membuka cerita. Pembaca dibuat deg-deg-an dengan nasib Hepi dan kawan-kawannya, hingga penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Tapi ternyata kisah ini adalah ‘gong’ yang kelanjutannya baru saya temukan menjelang akhir cerita. Kisah ini diceritakan dengan alur maju yang dapat saya nikmati saat membacanya. Tidak cepat, tidak lambat juga. Seluruh cerita dikisahkan dengan sangat detail oleh penulis, kental sekali dengan budaya Minang. Saya juga mendapati kisah yang saya nggak duga sama sekali. Kisah perjuangan seorang pahlawan kemerdekaan dan usahanya untuk memaafkan. Padahal saya pikir, ini hanya tentang Hepi dan petualangannya. Di dalam novel ini pembaca tidak akan bosan. Karena penulis menyelipkan sedikit humor yang mampu membuat sebuah adegan serius menjadi agak santai. Tak hanya itu, diberikan pula pengetahuan yang selama ini telah salah kaprah dipahami oleh orang-orang. Saya termasuk orang yang kurang paham dengan itu. Saya hanya bisa ber-oh- ria saat mengetahui kebenarannya. Hayoo, pedang dari Jepang itu namanya apa? Selain pengetahuan umum saya bertambah, kosa kata saya pun demikian. Saya harus bolak balik membuka KBBI, karena cukup banyak kosa kata yang saya baru dengar. Kosa kata bahasa Indonesia saya seketika meningkat, hahaha. Namun sayang sekali, di dalam novel ini ada beberapa kata yang nggak berspasi. Memang nggak terlalu kelihatan. Tapi akan lebih baik bila hal-hal kecil seperti ini diperhatikan. Selebihnya, novel ini nggak ada masalah lain kok. Review selengkapnya dapat dibaca di sini https://wennykinanthi.wordpress.com/2...

  20. 5 out of 5

    Eko Putra

    Jujur saja, ketika melihat novel ini saya mengira ini akan bercerita tentang tokoh yang akan merantau ke kota dan bercerita tentang sulitnya hidup merantau di perkotaan. Tetapi ternyata anggapan itu salah, novel ini menceritakan seorang anak, Hepi, yang merantau karena dipaksa oleh ayahnya karena kenakalan yang dia lakukan, ke suatu desa tempat ayahnya dilahirkan. Ayahnya berharap dengan menempatkan Hepi di desa dapat mengubah Hepi menjadi anak yang lebih baik karena menurutnya kehidupan di desa Jujur saja, ketika melihat novel ini saya mengira ini akan bercerita tentang tokoh yang akan merantau ke kota dan bercerita tentang sulitnya hidup merantau di perkotaan. Tetapi ternyata anggapan itu salah, novel ini menceritakan seorang anak, Hepi, yang merantau karena dipaksa oleh ayahnya karena kenakalan yang dia lakukan, ke suatu desa tempat ayahnya dilahirkan. Ayahnya berharap dengan menempatkan Hepi di desa dapat mengubah Hepi menjadi anak yang lebih baik karena menurutnya kehidupan di desa lebih baik dari di kota Jakarta. Tetapi dugaan ayahnya salah, kehidupan di desa ternyata tidak benar-benar aman, perampokan masih terjadi bahkan narkoba pun masih merajalela. Hepi yang dirantaukan secara paksa memiliki dendam tersendiri kepada ayahnya untuk membuktikan bahwa dia bisa pulang kembali ke Jakarta dengan uangnya sendiri. Oleh karena, dia berusaha dengan sangat keras untuk mengumpulkan uang. Sementara itu, disaat yang bersamaan dia mulai terbawa dengan suasana di desa, merasakan kasih sayang seorang nenek, bertemu dangan dua kawan baik: Attar dan Zen, berkenalan seorang pahlawan yang terlupakan : Pendeka Luko, bekerja dibawa preman kota insyaf : Lenon, dan yang paling mengejutkan adalah Hepi dan dua kawannya menjadi pahlawan di desa itu. Pada akhirnya, hal-hal tersebut yang membuat Hepi semakin bimbang untuk kembali ke Jakarta. "Bagaimana sedih dan merasa terbuang itu melemahkan. Bagaimana terlalu berharap kepada manusia dan makluk itu mengecewakan. Jadi, kalau merasa ditinggalkan, jangan sedih. Kita akan selalu ditemani dan ditemukan oleh yang lebih penting dari semua ini. Resepkan ini: kita tak akan ditinggal Tuhan. Jangan takut sewaktu menjadi orang terbuang. Takutlah pada kita yang membuang waktu. Kita tidak dibuang, kita yang merasa dibuang. Kita tidak ditinggalkan, kita yang merasa ditinggalkan. Ini hanya soal bagaimana kita memberi terjemah pada nasib kita" -Halaman 256

  21. 5 out of 5

    Diaries Book

    "Alam takambang jadi guru" Pepatah minang yang sering aku dengar sedari kecil. Alam bisa mengajarkan kita banyal hal dan kita bisa belajar dari alam. Hepi yang membenci ayahnya karna merasa ia dicampakan bisa belajar bagaimana alam berbicara dan mengungkapkan yang ia rasa, bagaimana adat dan pepatah minang mendewasakannya. Sejatinya rasa benci pada sang ayah hanyalah rindu dan rasa sayang yang tak bisa Hepi katakan. Tumbuh besar di daerah minangkabau novel ini membawa aku jauh menuju masa lampau "Alam takambang jadi guru" Pepatah minang yang sering aku dengar sedari kecil. Alam bisa mengajarkan kita banyal hal dan kita bisa belajar dari alam. Hepi yang membenci ayahnya karna merasa ia dicampakan bisa belajar bagaimana alam berbicara dan mengungkapkan yang ia rasa, bagaimana adat dan pepatah minang mendewasakannya. Sejatinya rasa benci pada sang ayah hanyalah rindu dan rasa sayang yang tak bisa Hepi katakan. Tumbuh besar di daerah minangkabau novel ini membawa aku jauh menuju masa lampau ketika adat minang masih berdiri kokoh. Minang dengan segala aturan dan prinsip-prinsip hidup. Novel ini membuatku sedikit flashback ketika kehidupan minang masih kental dan masyarakatnya hidup sesuai pepatah "Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah". Dialog dari buku ini yang sangat berkesan dan membekas buat aku adalah ketika Datuk Pandeka berkata "Bagaimana sedih dan merasa terbuang itu melemahkan. Bagaimana terlalu berharap kepada manusia dan makhluk itu mengecewakan. Jadi kalau merasa dikecewakan jangan sedih. Kita akan selalu ditemani dan ditemukan oleh yang lebih penting dari semua ini. Resapkan ini: Kita tak akan ditinggalkan Tuhan. Jangan taku sewaktu menjadi orang terbuang. Takutlah pada kita yang membuang waktu. Kita tidak dibuang, kita yang merasa dibuang. Kita tidak ditinggalkan, kita yang merasa ditinggalkan. Ini hanya soal bagaimana kita memberi terjemah pada nasib kita." Novel ini cocok untuk orang yang merasa ditinggalkan dan merasa dibuang dan dikecewakan, merasa dunia tidak adil pada diri. Hepi dan temannya juga membawa kalian menuju petualangan yang menegangkan dan bagaimana persahabat sejati terjalin.

  22. 5 out of 5

    Hana Fauzyyah Hanifin

    Seperti buku-buku Ahmad Fuadi lainnya, melalui kisah seorang anak bernama Hepi buku ini juga mengangkat sebuah nasihat utama, yaitu ‘alam takambang jadi guru, alam terkembang menjadi guru’. Alkisah, hiduplah seorang anak bernama Hepi, keturunan Minang asli yang tinggal di Jakarta sejak lahir. Sejak kakaknya beranjak dewasa, dan usaha ayahnya semakin sukses, Hepi yang merupakan piatu merasa kekurangan kasih sayang sehingga dia merencanakan sebuah ulah untuk menarik perhatian ayahnya. Tapi ternyata Seperti buku-buku Ahmad Fuadi lainnya, melalui kisah seorang anak bernama Hepi buku ini juga mengangkat sebuah nasihat utama, yaitu ‘alam takambang jadi guru, alam terkembang menjadi guru’. Alkisah, hiduplah seorang anak bernama Hepi, keturunan Minang asli yang tinggal di Jakarta sejak lahir. Sejak kakaknya beranjak dewasa, dan usaha ayahnya semakin sukses, Hepi yang merupakan piatu merasa kekurangan kasih sayang sehingga dia merencanakan sebuah ulah untuk menarik perhatian ayahnya. Tapi ternyata yang terjadi tidaklah sesuai harapan, Hepi justru terdampar di kampung halaman ayahnya. Dikompori oleh amarah karena merasa ditinggalkan, Hepi bertekad untuk mengumpulkan uang guna membeli tiket pesawat balik ke Jakarta. Dalam proses ‘pembalas dendaman’ ini lah Hepi mengalami berbagai petualangan, petualangan yang kemudian tidak hanya berbuah kebaikan untuk diri Hepi sendiri tapi kebaikan untuk kampungnya. Buku ini mengajarkan pada saya bahwa belajar tidak hanya di kelas, belajar bisa di mana saja, entah itu di warung makan, pasar, surau, atau mungkin sebuah rumah ‘angker’. Buku ini juga memberikan insight tentang bagaimana orang tua mendidik anak, tentang menyelami diri untuk mendekat pada-Nya, tentang amarah, dendam dan maaf, serta tentang interpretasi kita pada nasib. Ada banyak nasihat Minang yang disebarkan dengan indahnya dalam buku ini. Dan setelah membaca buku ini, saya merasa iri pada orang Minang, betapa banyak nilai-nilai Minang yang sangat berguna untuk mengarungi hidup ini.

  23. 4 out of 5

    Agusman 17An

    Ini kisah tentang Hepi, Attar dan Zen, Trio Detektif Cilik yang berhasil menggulung Maling Kampung. Tiga pribadi yang berbeda nan tak sama tapi saling bekerja sama. Hepi yang gila membaca, Attar sang penembak jitu dan Zen penyayang binatang. . . Cerita yang berseting di Tanjung Durian, Surau Gadang dan Danau Talago ini seru dan sangat menghibur. Paling seru ketika ketiga bocah meringkus maling kampung dan membuka kedok Biduk hantu. Paling berkesan ketika Hepi berkunjung ke rumah hitam dan berbinca Ini kisah tentang Hepi, Attar dan Zen, Trio Detektif Cilik yang berhasil menggulung Maling Kampung. Tiga pribadi yang berbeda nan tak sama tapi saling bekerja sama. Hepi yang gila membaca, Attar sang penembak jitu dan Zen penyayang binatang. . . Cerita yang berseting di Tanjung Durian, Surau Gadang dan Danau Talago ini seru dan sangat menghibur. Paling seru ketika ketiga bocah meringkus maling kampung dan membuka kedok Biduk hantu. Paling berkesan ketika Hepi berkunjung ke rumah hitam dan berbincang dengan Lelaki bermata harimau sang Pendeka Luko yakni Pejuang Kemerdekaan yang Terlupakan. . . Selalu suka dengan novelnya Bang @afuadi karena kata-katanya di dalamnya selalu memikat dan tak ketinggalan menyelipkan pesan yang sangat kuat. . . Bacalah novel ini karena ia bisa mengobati banyak luka dan menumbuhkan banyak maaf. Dan mengajarkan kita bahwa marah dan dendam hanya akan melelahkan jiwa. Serta mengingatkan kita bahwa kita tidak akan pernah ditinggalkan, jika kita memilih untuk merasa bersama. . . Nah, akan aku bagikan kutipan yang aku sukai di novel ini "Kalau merasa ditinggalkan jangan sedih. Kita akan selalu ditemani dan ditemukan oleh yang lebih penting. Resapi lah bahwa kita tak akan ditinggalkan Tuhan. Jangan takut sewaktu menjadi orang terbuang. Takutlah pada kita yang membuang waktu" . . Dan ada satu puisi Pendeka Luko ; Merdekakan jiwa, Merdekakan pikiran, Dari penjajahan pribadi yang kita buat sendiri-sendiri Dari amarah dan dendam Maafkan, maafkan, maafkan Lalu mungkin lupakan

  24. 4 out of 5

    Dina F

    This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here. Hepi anak SMP di ibukota, piatu, yang malas-malasan dan suka membuat ulah do sekolah untuk sekedar mencari perhatian ayahnya yang sibuk mencari nafkah. Suatu hari, Hepi gagal naik kelas 3. Ayahnya bingung melihat Hepi. Akhirnya ayahnya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman ayahnya di Sumbar. Hepi yang baru datang kesana pertama kali sangat senang. Sampai ketika mereka hendak kembali di Jakarta, ternyata ayahnya berniat meninggalkan dia di kampung agar diasuh dan dididik oleh Kakek Neneknya. Hepi anak SMP di ibukota, piatu, yang malas-malasan dan suka membuat ulah do sekolah untuk sekedar mencari perhatian ayahnya yang sibuk mencari nafkah. Suatu hari, Hepi gagal naik kelas 3. Ayahnya bingung melihat Hepi. Akhirnya ayahnya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman ayahnya di Sumbar. Hepi yang baru datang kesana pertama kali sangat senang. Sampai ketika mereka hendak kembali di Jakarta, ternyata ayahnya berniat meninggalkan dia di kampung agar diasuh dan dididik oleh Kakek Neneknya. Hepi sangat marah dan dendam pada ayahnya. Ia berusaha mengumpulkan uang untuk membeli tiket pesawat. Banyak hal yang dialami selama Hepi di kampung, ia bertemu Attar dan Zen kawan sepermainannya yang loyal, Lenon mantan preman dan pembunuh yang insaf, Pandeka Luko mantan veteran yang dilupakan, Puti dan Bu Ibet. Suatu hari kampung sering kali kemalingan, Hepi dan kawan-kawan turut membantu menangkap maling dan ternyata berhubungan dengan aktivitas peredaran narkoba di kampunnya. Hepi dan kawan-kawanpun terus mencari tau siapa dalam peredaran narkoba tersebut. Setelah mengintai dan akhirnya tertangkap oleh kawanan pengedar, barulah diketahui ternyata Lenon lah pemimpinnya. Nyawa Hepi sudah diujung tanduk ketika akhirnya bala bantuan dari polisi, kakek dan Pandeka datang menyelamatkan mereka. Yang menarik dari novel ini adalah istilah dan peribahasa Minang yang bisa saya highlight untuk sekedar menambah wawasan budaya dan bahasa tradisional daerah lain yang cukup menarik bagi saya.

  25. 5 out of 5

    Mertha Sanjaya

    Pertama-tama, saya mau minta maaf karena saya kadang baca Hepi jadi Hope. Ampuuuun! Oke, masuk ke review. Anak Rantau ini berkisah tentang Hope--Hepi, bocah 15 tahun yang bandel dan suka bolos sekolah. Pada kenaikan kelas, si Ho--Hepi nggak naik. Bapaknya kecewa kan. Terus, dia punya ide buat nitipin Hope--HEPI WOI! ke kakeknya di desa Tanjung Durian, kampung halamannya si bapak. Niatnya sih supaya HopeALAMAKHEPI belajar tentang hidup di sana. Biar dia nggak bandel lagi. Lantas, Hepi yang nggak ter Pertama-tama, saya mau minta maaf karena saya kadang baca Hepi jadi Hope. Ampuuuun! Oke, masuk ke review. Anak Rantau ini berkisah tentang Hope--Hepi, bocah 15 tahun yang bandel dan suka bolos sekolah. Pada kenaikan kelas, si Ho--Hepi nggak naik. Bapaknya kecewa kan. Terus, dia punya ide buat nitipin Hope--HEPI WOI! ke kakeknya di desa Tanjung Durian, kampung halamannya si bapak. Niatnya sih supaya HopeALAMAKHEPI belajar tentang hidup di sana. Biar dia nggak bandel lagi. Lantas, Hepi yang nggak terima, merasa telah dibuang sama bapaknya sendiri. Dia bertekad ngumpulin duit supaya bisa balik ke Jakarta dan balas dendam ke bapaknya. Saya suka sekali dengan konflik batinnya si Hepi ini. Anak kecil yang tekadnya besar. Interaksinya dengan teman-temannya di kampung juga saya suka. Tapi, saya agak kurang sreg ketika cerita mendekati akhir. Ceritanya jadi mirip film detektif-detektifan barat gitu--(view spoiler)[in which, a group of kiddies find a secret hiding place and then become local heroes. (hide spoiler)] Karakternya juga terlalu banyak, jadi kurang dieksplor. Coba kalo kisah cinta monyetnya Hepi dan Puti dieksplor, pasti lebih menarik. Fokus coming of age si Hepi bisa lebih dalam lagi. But, overall, this is enjoyable. Meski kadang bahasanya agak berat buat saya pribadi yang biasanya baca novel pop. Demikianlah review saya. Terima kasih. Regards, Metha

  26. 5 out of 5

    Meta Morfillah

    Judul: Anak rantau Penulis: @afuadi Penerbit: Falcon Dimensi: 382 hlm, 14x20.5 cm, cetakan pertama Juli 2017 ISBN: 9786026051493 Berkisah tentang Hepi, anak piatu yang sengaja ditinggalkan ayahnya di kampung halaman sebagai hukuman. Bernyalakan dendam, ia kerahkan segala upaya demi membeli tiket pesawat untuk kembali ke Jakarta. Namun, selama menjadi #anakrantau , ia malah menemukan banyak hal mengejutkan tentang #kampung halaman ayahnya ini. Ada kisah keluarga yang mengharukan, persahabatan, akar bud Judul: Anak rantau Penulis: @afuadi Penerbit: Falcon Dimensi: 382 hlm, 14x20.5 cm, cetakan pertama Juli 2017 ISBN: 9786026051493 Berkisah tentang Hepi, anak piatu yang sengaja ditinggalkan ayahnya di kampung halaman sebagai hukuman. Bernyalakan dendam, ia kerahkan segala upaya demi membeli tiket pesawat untuk kembali ke Jakarta. Namun, selama menjadi #anakrantau , ia malah menemukan banyak hal mengejutkan tentang #kampung halaman ayahnya ini. Ada kisah keluarga yang mengharukan, persahabatan, akar budaya Minang, serta sudut pandang baru tentang pemberontakan besar di masa lalu (PRRI). #Penulis seperti bertujuan menghidupkan kembali kekuatan kampung halaman dan mengajak pembacanya untuk kembali #pulang dari rantau. Ada banyak nilai #kehidupan yang bisa dipelajari dari #budaya Minang ini. Saya apresiasi 5 dari 5 bintang. "Jangan takut sewaktu menjadi orang terbuang. Takutlah pada kita yang membuang waktu." (H.255) "Kita tidak akan pernah ditinggalkan, jika kita memilih untuk merasa bersama." (H.347) "Kemunduran kampung kita akan terus terjadi, bukan karena banyaknya orang jahat, melainkan karena lebih banyak orang baik yang memilih diam dan tidak peduli dengan kampungnya. Pembiaran berjamaah, akan menghasilkan penyesalan berjamaah." (H.349) Meta morfillah #reviewbuku

  27. 5 out of 5

    Fannisa Septariana

    Karya yang selalu menjadi ciri khas Ahmad Fuadi adalah setting cerita yang begitu detail hingga melampirkan peta tiap tempatnya. Karya pertamanya yang membuat saya terkagum adalah Negeri 5 Menara yang sama baiknya dalam mendeskripsikan hal-hal detail tiap tokohnya. Cerita yang selalu dibumbuhi dengan nilai-nilai islam dan latar belakang penulisnya mungkin menjadi hal yang paling menarik dari karya ini. Dalam buku ini, saya menemukan pelajaran yang berharga terkait sejarah Padang yang mungkin tel Karya yang selalu menjadi ciri khas Ahmad Fuadi adalah setting cerita yang begitu detail hingga melampirkan peta tiap tempatnya. Karya pertamanya yang membuat saya terkagum adalah Negeri 5 Menara yang sama baiknya dalam mendeskripsikan hal-hal detail tiap tokohnya. Cerita yang selalu dibumbuhi dengan nilai-nilai islam dan latar belakang penulisnya mungkin menjadi hal yang paling menarik dari karya ini. Dalam buku ini, saya menemukan pelajaran yang berharga terkait sejarah Padang yang mungkin telah banyak dilupakan oleh masyarakat. PRRI yang merupakan hanya sebuah gerakan protes dinilai pemberontakan bagi pemerintahan pusat hingga harus melayangkan banyak nyawa. Ada perasaan miris ketika penulis mengungkap tragedi ini, mengetahui bahwa alasan dibalik protes tersebut sebenarnya masih sangat relevan dengan keadaan sekarang. Walau alur cerita dalam buku ini sedikit membosankan karena konflik yang disediakan tidak begitu dalam, saya tetap merasa buku ini layak untuk dibaca bagi pencinta karya non-fiksi dan terkhusus bagi masyarakat yang berdarah Minang.

  28. 5 out of 5

    Ahmad Ahmad

    Bagian pertama awalnya sedikit membosankan, tapi makin dibaca makin tidak mau berhenti, makin menegangkan dan makin tak sabar untuk tahu bagaimana kisah selanjutnya. Jika di Negeri 5 Menara pembaca selalu ingat dengan Man Jadda Wajadda, maka di buku ini A. Fuadi kembali berhasil menanamkan kebijaksanaan kepada pembaca yang juga selalu diulang-ulang: Alam terkembang jadi guru. Saya membaca buku ini sepanjang perjalanan selama 3 hari ke Toraja. Kebanyakan saya baca di dalam bus dalam Makassar-Toraja Bagian pertama awalnya sedikit membosankan, tapi makin dibaca makin tidak mau berhenti, makin menegangkan dan makin tak sabar untuk tahu bagaimana kisah selanjutnya. Jika di Negeri 5 Menara pembaca selalu ingat dengan Man Jadda Wajadda, maka di buku ini A. Fuadi kembali berhasil menanamkan kebijaksanaan kepada pembaca yang juga selalu diulang-ulang: Alam terkembang jadi guru. Saya membaca buku ini sepanjang perjalanan selama 3 hari ke Toraja. Kebanyakan saya baca di dalam bus dalam Makassar-Toraja atau sebaliknya yang memang cukup memakan waktu—sekitar 8 jam. Beberapa halaman juga saya baca di sela-sela mengunjungi tempat wisata, di sela-sela mendampingi mahasiswa English for Tourism. Dan karena masih tersisa beberapa halaman, akhirnya saya selesaikan dengan segera begitu tiba di Makassar. Membaca di atas bus, apalagi rute Makassar-Toraja yang berkelok-kelok dan naik turun, memang cukup memusingkan awalnya. Tapi karena dipaksakan akhirnya terbiasa juga. Dan membaca dan menyelesaikan novel saat liburan adalah tantangan yang sengaja saya coba — dari dulu selalu bawa novel tapi jarang dibaca karena fokusnya cuman jalan. Namun ini saya lakukan terinspirasi oleh orang-orang UK 🇬🇧 yang beberapa kali saya dapati selalu membaca novel saat liburan. Menurut mereka berlibur tidak sekadar ke tempat wisata tapi juga melumat habis novel atau buku-buku lain dalam perjalanan.

  29. 4 out of 5

    Imam Rahmanto

    Ini buku ketiga saya untuk tahun ini. Yah, paling tidak masih bisa mengisi waktu per bukannya. Padahal buku-buku semacam ini seharusnya bisa khatam dalam sekali duduk. Kebetulan, saya melihat buku ini mondar-mandir dalam TL Twitter. Seperti judulnya, tentang perantauan. Awalnya, saya mengira isinya bakal berputar pada tokoh dewasa yang merantau dalam penghidupan atau kerjanya. Sedikitnya, meleset. Ceritanya tentang anak yang "merantau" di kampung halamannya sendiri setelah sengaja ditinggalkan aya Ini buku ketiga saya untuk tahun ini. Yah, paling tidak masih bisa mengisi waktu per bukannya. Padahal buku-buku semacam ini seharusnya bisa khatam dalam sekali duduk. Kebetulan, saya melihat buku ini mondar-mandir dalam TL Twitter. Seperti judulnya, tentang perantauan. Awalnya, saya mengira isinya bakal berputar pada tokoh dewasa yang merantau dalam penghidupan atau kerjanya. Sedikitnya, meleset. Ceritanya tentang anak yang "merantau" di kampung halamannya sendiri setelah sengaja ditinggalkan ayahnya. Disanalah ia mendalami kehidupan keluarganya yang sebenarnya. Yah, saya jadi melihat diri sendiri. Mirip. Lahir dan di kampung orang, tapi asal-usul keluarga utuh dari kampung yang berbeda. *eh, curcol. Buku ini lebih cocok dikategorikan sebagai bacaan keluarga. Barangkali, di tengah langkanya bacaan anak yang berkualitas, cerita Hepi, Attar, dab Zen ini layak jadi rekomendasi. Kisahnya seolah memutar kembali kenangan saya dengan bacaan masa kecil; detektif dan petualangan. Terlepas dari itu, penulis juga masih kukuh menjabarkan latar belakang budaya dalam setiap tulisannya. Memang sih, tulisan apapun, tak jauh-jauh dari karakter atau kepribadian penulisnya sendiri. Karena Ahmad Fuadi berasal dari Tanah Minang, Sumatera Barat.

  30. 5 out of 5

    Asdar Munandar

    Satu-satunya yang tidak kusukai dari novel ini adalah nama pemeran utamanya. "heppi" kenapa harus Hepi ? begitu gerutuku. Heppi tokoh utama di novel ini adalah anak SPM kelas 3 yang jadi pahlawan super hero di kampungnya. Saya yakin di dunia nyata tidak pernah ada anak seumuran itu mampu melakukan hal-hal seperti Heppi lakukan. itu kadang yang membuat saya berfikir, kenapa para penulis novel kadang membuat tokoh yang tidak membumi, terlalu fiktif untuk menjadi manusia. di luar ketidaksukaan saya t Satu-satunya yang tidak kusukai dari novel ini adalah nama pemeran utamanya. "heppi" kenapa harus Hepi ? begitu gerutuku. Heppi tokoh utama di novel ini adalah anak SPM kelas 3 yang jadi pahlawan super hero di kampungnya. Saya yakin di dunia nyata tidak pernah ada anak seumuran itu mampu melakukan hal-hal seperti Heppi lakukan. itu kadang yang membuat saya berfikir, kenapa para penulis novel kadang membuat tokoh yang tidak membumi, terlalu fiktif untuk menjadi manusia. di luar ketidaksukaan saya terhadap tokoh utamanya, secara garis besar saya jatuh suka pada novel ini. Kisahnya ringan dan menyentuh tapi tidak melankolis. hubungan antara anak lelaki dan ayahnya digambarkan cukup baik. selama ini kenyataannya selalu ada jarak yang tak kasat mata antara anak lelaki dan ayahnya, begitu juga Heppi, ayahnya dan kekeknya Heppi. Hubungan ketiga manusia beda generasi ini cukup rumit dengan berbagai kompliknya. A. Fuadi selalu mampu membawa pembaca larut dalam novelnya, seperti novel-novel sebelumnya banyak pesan-pesan moral yang bisa dipetik dari kisah ringan ini. Novel ini kuberi bintang 4 kurang satu bintang dari nilai sempurna bagaimanapun juga saya mengucapkan banyak terimakasih kepada penulis telah menghasilkan karya ini.

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.