website statistics Writer vs Editor - PDF Books Online
Hot Best Seller

Writer vs Editor

Availability: Ready to download

Hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan... Kalimat yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Nuna R. Mirja, bekerja sebagai pegawai swalayan padahal bercita-cita menjadi penulis. Nuna menyebutnya sebagai "pelencengan rencana hidup". Berkali-kali menerima penolakan dari berbagai penerbit atas naskahnya sudah cukup menjadi alasan Nuna untuk melupakan cita-cit Hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan... Kalimat yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Nuna R. Mirja, bekerja sebagai pegawai swalayan padahal bercita-cita menjadi penulis. Nuna menyebutnya sebagai "pelencengan rencana hidup". Berkali-kali menerima penolakan dari berbagai penerbit atas naskahnya sudah cukup menjadi alasan Nuna untuk melupakan cita-citanya. Hingga ia menerima surat dari salah satu penerbit yang menyatakan naskahnya layak untuk diterbitkan. Sepucuk surat yang membuat Nuna berpikir hidupnya akan mulai berjalan sesuai rencana. Sayangnya dia salah. Ini justru awal dari berbagai pelencengan rencana hidup lainnya. Mulai dari mendapat editor yang sangat menyebalkan untuk naskahnya. Bertemu kembali dengan cinta pertamanya, sosok sempurna yang selalu membuatnya patah hati, setiap kali ia menyadari perasaannya takkan pernah tersampaikan. Hingga kehilangan orang yang begitu penting dalam hidupnya, yang mengharuskannya berusaha lebih keras di antara dilema cinta yang datang tak terduga.


Compare

Hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan... Kalimat yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Nuna R. Mirja, bekerja sebagai pegawai swalayan padahal bercita-cita menjadi penulis. Nuna menyebutnya sebagai "pelencengan rencana hidup". Berkali-kali menerima penolakan dari berbagai penerbit atas naskahnya sudah cukup menjadi alasan Nuna untuk melupakan cita-cit Hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan... Kalimat yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Nuna R. Mirja, bekerja sebagai pegawai swalayan padahal bercita-cita menjadi penulis. Nuna menyebutnya sebagai "pelencengan rencana hidup". Berkali-kali menerima penolakan dari berbagai penerbit atas naskahnya sudah cukup menjadi alasan Nuna untuk melupakan cita-citanya. Hingga ia menerima surat dari salah satu penerbit yang menyatakan naskahnya layak untuk diterbitkan. Sepucuk surat yang membuat Nuna berpikir hidupnya akan mulai berjalan sesuai rencana. Sayangnya dia salah. Ini justru awal dari berbagai pelencengan rencana hidup lainnya. Mulai dari mendapat editor yang sangat menyebalkan untuk naskahnya. Bertemu kembali dengan cinta pertamanya, sosok sempurna yang selalu membuatnya patah hati, setiap kali ia menyadari perasaannya takkan pernah tersampaikan. Hingga kehilangan orang yang begitu penting dalam hidupnya, yang mengharuskannya berusaha lebih keras di antara dilema cinta yang datang tak terduga.

30 review for Writer vs Editor

  1. 5 out of 5

    Gita

    Saya tertarik mengambil buku ini dari rak di sebuah toko buku karena cover-nya yang bagus, berwarna-warni. Sukaaa! Apalagi karena judulnya, "Writer versus Editor", yang saya kira bakal bercerita tentang seorang penulis yang ngotot ingin mempertahankan naskahnya sementara sang editor berkutat harus melakukan perubahan-perubahan yang terlalu signifikan, menghilangkan ciri khas si penulis. Tapi kemudian saya membaca resensinya. Oh, kisah cinta... Hmm oke, sepertinya masih tetap menarik. Ternyata tid Saya tertarik mengambil buku ini dari rak di sebuah toko buku karena cover-nya yang bagus, berwarna-warni. Sukaaa! Apalagi karena judulnya, "Writer versus Editor", yang saya kira bakal bercerita tentang seorang penulis yang ngotot ingin mempertahankan naskahnya sementara sang editor berkutat harus melakukan perubahan-perubahan yang terlalu signifikan, menghilangkan ciri khas si penulis. Tapi kemudian saya membaca resensinya. Oh, kisah cinta... Hmm oke, sepertinya masih tetap menarik. Ternyata tidak terlalu menarik. Yang bikin saya turn-off bukan kisah cintanya yang klise dan drama-like lho, because let's face it, every romance novel is like that. Yang bikin saya kecewa itu pemilihan kata dan penempatan tanda baca. Dead air, anyone? Kenapa sih Mbak Ria nggak menjelaskan saja kesunyian di antara dua karakter dengan sedikit lebih deskriptif? Terus banyak juga kalimat-kalimat yang harus sedikit diatur, soalnya seperti memaksakan. Sebenernya bisa dibuat beberapa kalimat berbeda, tapi nggak, Mbak Ria maunya semua itu dijadikan kalimat majemuk. Fine. Nggak nyaman bacanya. Ada kalimat yang lupa diberi titik, pula. Coba sebelum naik cetak, dibaca ulang sama Mbak Ria atau editornya sekali lagiii aja. Pasti ketahuan bagian-bagian yang harus diedit. Masa saya yang nggak ada pengalaman menerbitkan buku aja sadar ada banyak kesalahan tapi Mbak Ria dan editornya nggak?

  2. 5 out of 5

    Titish A.K.

    Tema novel ini sebenarnya menarik, mengangkat hubungan cinta antara penulis dan editor. Kayaknya belum pernah ada penulis yang mengangkat tema ini. Gaya bercerita Mbak Ria (sok akrab :p) pun lancar. Nggak ada yang bikin mengernyit karena aneh atau berjalan di luar logika. Tapi... Saking lancarnya saya jadi cenderung membaca cepat dan buru-buru menyelesaikannya. Bukan karena kepengen segera tahu akhir cerita, melainkan karena kepengen segera berganti dengan bacaan lain. Meskipun pelaku pencari cin Tema novel ini sebenarnya menarik, mengangkat hubungan cinta antara penulis dan editor. Kayaknya belum pernah ada penulis yang mengangkat tema ini. Gaya bercerita Mbak Ria (sok akrab :p) pun lancar. Nggak ada yang bikin mengernyit karena aneh atau berjalan di luar logika. Tapi... Saking lancarnya saya jadi cenderung membaca cepat dan buru-buru menyelesaikannya. Bukan karena kepengen segera tahu akhir cerita, melainkan karena kepengen segera berganti dengan bacaan lain. Meskipun pelaku pencari cintanya diambil dari profesi yang nggak banyak disorot (penulis-editor), formula ceritanya sama sekali tidak ada kebaruan. Jalan ceritanya sangat mudah ditebak. Saya sampai bisa menebak kapan akan muncul kata "dead air", "indoktrinasi pikiran", atau adegan dengan setting restoran Jepang di dekat kantor GlobalBooks. Pada beberapa titik saya merasa capek membaca bagaimana kedua tokoh bergiliran saling emosi dan gengsi yang membentuk rentetan kesalahpahaman yang tidak habis-habisnya. Saya mengharapkan lebih dari penulis yang memenangkan Khatulistiwa Literary Award :)

  3. 5 out of 5

    Yovano N.

    Er. Serius yang nulis novel ini pernah dianugrahi Khatulistiwa Award? Kok kayak baru pertama kali nulis novel ya? Dan itu... istilah "dead air". Diulang-ulang terus sampe saya bosen. Sebenarnya novel ini nggak jelek-jelek amat. Hanya saja, saya terlalu berharap lebih dari 'Penulis Muda Berbakat Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2008-2009' ini. Jadinya malah kecewa begini. Kalau saja tidak ada label Penulis Muda Berbakat bla bla bla itu, mungkin malah lebih baik, agar pembaca tidak menggantungk Er. Serius yang nulis novel ini pernah dianugrahi Khatulistiwa Award? Kok kayak baru pertama kali nulis novel ya? Dan itu... istilah "dead air". Diulang-ulang terus sampe saya bosen. Sebenarnya novel ini nggak jelek-jelek amat. Hanya saja, saya terlalu berharap lebih dari 'Penulis Muda Berbakat Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2008-2009' ini. Jadinya malah kecewa begini. Kalau saja tidak ada label Penulis Muda Berbakat bla bla bla itu, mungkin malah lebih baik, agar pembaca tidak menggantungkan harapan terlalu tinggi.

  4. 4 out of 5

    Pauline Destinugrainy

    This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here. Hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan… Kalimat di atas sepertinya menjadi garis besar dari novel kedua karya Ria N. Badaria. Ketiga tokoh di dalamnya, Nuna (the writer), Rengga (the editor), dan Arfat (the chief-editor) sama-sama tidak menyangka jalan hidup mereka melenceng dari apa yang mereka rencanakan. Nuna, awalnya ingin jadi penulis setelah membaca Harry Potter pemberian seseorang yang dikaguminya. Tapi akhirnya dia menjalani hari-harinya sebagai seorang karyawati di swal Hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan… Kalimat di atas sepertinya menjadi garis besar dari novel kedua karya Ria N. Badaria. Ketiga tokoh di dalamnya, Nuna (the writer), Rengga (the editor), dan Arfat (the chief-editor) sama-sama tidak menyangka jalan hidup mereka melenceng dari apa yang mereka rencanakan. Nuna, awalnya ingin jadi penulis setelah membaca Harry Potter pemberian seseorang yang dikaguminya. Tapi akhirnya dia menjalani hari-harinya sebagai seorang karyawati di swalayan waralaba di Bogor. Walaupun demikian, Nuna masih mengirim beberapa draft novelnya ke penerbit-penerbit lokal. Penolakan demi penolakan diterima oleh Nuna, hingga akhirnya GlobalBooks menerima draft novelnya. Rengga, editor yang bertanggung jawab atas naskah milik Nuna merasa bahwa novel Nuna akan menjadi best seller. Sayangnya Rengga mengalami kesulitan menghubungi Nuna, karena Nuna tidak mempunyai handphone. Hingga suatu waktu Nuna berhasil dihubungi, dan Rengga menyiapkan rencana untuk memberikan pelajaran buat penulis muda tersebut. Di restoran Jepang dekat GlobalBooks, Rengga dan temannya Radit berhasil membuat Nuna terkejut karena harus membayar tagihan makanan mereka berdua (dengan harga yang cukup mahal bagi Nuna, tentunya). Di kantornya, Rengga sendiri menghadapi masalah ketika Kepala Editor bagian Fiksi harus diganti. Penggantinya adalah seorang lelaki lulusan sekolah sastra di Australia. Yang membuat Rengga lebih heran lagi adalah ketika Arfat, Kepala Editor yang baru, meminta Rengga untuk menghubungi Nuna agar datang ke kantor GlobalBooks. Di luar dugaan, Nuna mengenal Arfat, yang tak lain adalah cinta terpendamnya yang memberikan buku Harry Potter kepadanya dulu. Singkat cerita, Arfat dan Nuna jadian. Cinta lama yang bersemi kembali. Setelah Arfat berhasil menggaet Nuna, Rengga baru menyadari bahwa dia juga mencintai Nuna. Dilema yang dihadapi oleh Rengga adalah bersaing dengan boss-nya sementara dia tahu Nuna begitu memuja Arfat. Mana mungkin Rengga bisa memenangkan hati Nuna? Cinta segitiga adalah hal yang sering diangkat di dalam novel-novel Metropop. Yang menjadi unik dari cerita ini adalah latar belakang ceritanya yang mengangkat setting sebuah penerbitan. Sayangnya, penulis tidak terlalu mengeksplorasi tentang pekerjaan penulis dan editor ini. Tadinya saya berharap mengetahui bagaimana prosesnya sebuah naskah dari penulis sampai ke editor, kemudian naik cetak, dan menjadi best seller. Hal kedua yang tidak biasa adalah kurangnya taburan merk pada novel Metropop ini. Hanya ada Nissan Terano milik Arfat dan CRV Silver milik Rengga. Nuna sendiri digambarkan sebagai gadis yang tinggal di sebuah rumah yang terletak di gang dengan kehidupannya yang sederhana. Alur cerita cukup menarik dengan ending yang bisa ditebak, plus sedikit kejutan di akhir cerita. Saya lumayan suka dengan gaya penulisan Ria yang mengalir (walaupun agak terganggu dengan restoran Jepang yang berkali-kali muncul di cerita ini, gak ada restoran lain apa di Jakarta?). Ada beberapa adegan-adegan berbau Korea (kabarnya penulisnya memang menyukai dorama-dorama Korea). Sampulnya juga unik, dengan tumpukan buku-buku yang menggambarkan pekerjaan penulis dan editor. Dan…tiga bintang masing-masing untuk Nuna, Rengga dan Arfat.

  5. 5 out of 5

    Muhammad Ridwan

    Writer Vs Editor adalah novel Metropop pertama yang saya baca. Sebenarnya, saya agak menghindari genre ini. Tapi, karena pas ada pameran buku di sebuah mal dan saya berniat membeli buku, saya pun asal nyomot. Pulang-pulang, saya lihat judul dan genre-nya. Dan... Ternyata ini Novel Metropop yang tak sengaja tercomot di rak tempat novel bergenre umum. Kok bisa? Mungkin saya sudah ditakdirkan untuk (mau tidak mau) membaca novel ini. Sama seperti judulnya, novel ini bercerita tentang perseteruan seor Writer Vs Editor adalah novel Metropop pertama yang saya baca. Sebenarnya, saya agak menghindari genre ini. Tapi, karena pas ada pameran buku di sebuah mal dan saya berniat membeli buku, saya pun asal nyomot. Pulang-pulang, saya lihat judul dan genre-nya. Dan... Ternyata ini Novel Metropop yang tak sengaja tercomot di rak tempat novel bergenre umum. Kok bisa? Mungkin saya sudah ditakdirkan untuk (mau tidak mau) membaca novel ini. Sama seperti judulnya, novel ini bercerita tentang perseteruan seorang wanita penulis pemula dengan seorang pria editor yang bersifat dingin (apa tegas ya? agak plin-plan soalnya). Inilah yang membuat saya menghindari novel Metropop. Ceritanya pasti bertengkar-bertengkar-saling suka-masing2 punya pasangan-berantem/konflik sama pasangan-saling hindar-happy ending. Begitulah novel ini. Saya gak akan menyinopsis novel ini. Kenapa? Toh, di Goodreads udah banyak sinopsis novel ini yang bertebaran :D . Oke, saatnya komen tentang novel ini: Firstly, NAMA TOKOH UTAMA yang terlalu susah untuk diucapkan bahkan diingat oleh saya. Selain kurang familier, namanya juga agak aneh. Yang cewek namanya NUNA. Kenapa gak LUNA atau NINA atau NANA aja? Kenapa harus NUNA? Yang cowok juga gitu. RENGGA namanya. Kenapa gak RANGGA atau yang lain? Susah deh bacanya. Dan, karena sepanjang novel ini menggunakan POV 3, membuat novel ini penuh dengan dua nama susah tersebut. Akhirnya susah buat menikmati novelnya. Gara-gara dua buah nama!!! Kedua, lima puluh halaman awal novel ini banyak banget kata yung diulang. Contohnya handphone. Dalam satu halaman aja bisa lebih dari 7 kata itu ditulis. Mengganggu banget. Pake miring-miring segala lagi tulisannya. Banyak banget juga kata-kata inggris yang sebenarnya masih bisa dialihbahasakan. Ketiga, LOGIKA! Logikanya kurang dapat. Apalagi memasuki pertengahan hingga akhir cerita. Benar-benar dibuat bingung yang baca. Ada apa dengan si ini? Terus ini kenapa? Terus? Lho, kok bisa? dan lain sebagainya. Sebenarnya tema ceritanya bagus. Tapi memang seperti dikerjakan dengan buru-buru. Sekian. Semoga Mbak Ria N. Badaria bisa bikin novel yang lebih cetar lagi! :)

  6. 5 out of 5

    Ryan

    Premis yang oh so cliche. Terkesan FTV-ish dan film Korea-ish tentan gadis biasa yang diperrebutkan dua cowok tampan. Cuma menarik di separuh awal. Ceritanya ketebak dan membosankan. Hampir lupa kalo buku ini masuk Khatulistiwa Literary Award. Mungkin yang milih lagi mabok.

  7. 4 out of 5

    Rahmadiyanti

    Saat buku ini terbit 10 tahun lalu, saya lumayan tertarik pengen baca. Namun entah kenapa terlewat begitu saja, dan baru beberapa waktu lalu dapat preloved buku ini tak sengaja karena awalnya mau beli buku lain. Oke, blurb dan sampul buku ini memang menarik, apalagi buat saya yang (pernah) berkecimpung dalam dunia penerbitan buku. Baca bab-bab awal lumayan menjanjikan, meski sudah ada lubang cerita (Kenapa Nuna lempeng banget, nggak terbaca emosi bahagia bukunya bisa diterbitkan, setelah beberapa Saat buku ini terbit 10 tahun lalu, saya lumayan tertarik pengen baca. Namun entah kenapa terlewat begitu saja, dan baru beberapa waktu lalu dapat preloved buku ini tak sengaja karena awalnya mau beli buku lain. Oke, blurb dan sampul buku ini memang menarik, apalagi buat saya yang (pernah) berkecimpung dalam dunia penerbitan buku. Baca bab-bab awal lumayan menjanjikan, meski sudah ada lubang cerita (Kenapa Nuna lempeng banget, nggak terbaca emosi bahagia bukunya bisa diterbitkan, setelah beberapa kali ditolak penerbit?). Soal emosi Nuna ini juga yang di bab-bab selanjutnya bikin cerita jadi kering. Masih mending karakter Rengga (dan juga Marsya) yang meski nyebelin, lumayan menghidupkan cerita. Oke (2), jadi menurut saya ide dan materi cerita sebenarnya bagus, seingat saya belum banyak penulis Indonesia yang mengangkat cerita tentang "hubungan" penulis dengan editor. Tapi saat membaca, saya seperti robot. Kering. Saya tidak merasa dilibatkan secara emosi. Cerita terlalu linear, konflik dan endingnya tertebak. Bikin saya ingin segera menuntaskan, tak terlalu menyelami cerita. Penulis sepertinya terlalu fokus pada kisah cinta tokoh-tokohnya, bukan pada kisah penulis dan editor. Iya, Nuna adalah penulis dan Rengga editor, nggak masalah ada cinta di antara mereka, yang "diganggu" oleh Arfat, Marsya, Sarah. Namun, sebagaimana judul, pembaca (saya sih khususnya) berharap eksplorasi yang lebih kental pada dunia penerbitan buku, kepenulisan, penyuntingan. Cerita ini jadi seperti kisah cinta berlatar penerbitan buku, bukan penerbitan buku yang diselipi kisah cinta. Sayang saja, sebab kisah cinta yang dituturkan penulis sudah mainstream. Tapi kisah cinta berbalut soal kepenulisan dan penyuntingan, belum banyak. Saya membayangkan penulis mengeksplorasi bagaimana Nuna berusaha memperbaiki draft naskahnya, lalu Rengga memberi beragam masukan, dan terjadi diskusi (sampai ngotot-ngototan juga boleh). Sayang disayang di puau seberang.... Oke (3), jadi 2,6 stars ya.

  8. 4 out of 5

    Nike Andaru

    41 - 2020 Metropop pertama yang saya baca tahun ini, kangen soalnya cerita romansa yang ringan ala metropop. Lalu, demi membabat timbunan maka, mari selesaikan satu-satu metropop yang tersisa, salah satunya buku ini. Cerita tentang Nuna yang bercita-cita menjadi penulis dan Rengga yang bercita-cita menjadi jurnalis TV tapi malah jadi editor. Karena novel perdana Nuna, akhirnya mereka berdua bertemu. Rengga yang punya pacar suka morotin dan Nuna yang hidup sederhana banget jadi latar belakang merek 41 - 2020 Metropop pertama yang saya baca tahun ini, kangen soalnya cerita romansa yang ringan ala metropop. Lalu, demi membabat timbunan maka, mari selesaikan satu-satu metropop yang tersisa, salah satunya buku ini. Cerita tentang Nuna yang bercita-cita menjadi penulis dan Rengga yang bercita-cita menjadi jurnalis TV tapi malah jadi editor. Karena novel perdana Nuna, akhirnya mereka berdua bertemu. Rengga yang punya pacar suka morotin dan Nuna yang hidup sederhana banget jadi latar belakang mereka berdua punya rasa suka. Gak langsung suka, Nuna harus dihadapkan dengan kenyataan seorang yang dikaguminya hadir kembali, yaitu Arfat. Lika-liku cinta Nuna - Rengga ini sebetulnya gampang ditebak, endingnya pun begitu (ending yang kurang saya sukai sih sebenarnya), tapi baiknya Ria membawa ceritanya itu mengalir pelan, ringan, mudah diikuti, mencapai konflik (yg juga sudah bisa ditebak) lalu menuju ending yang disukai banyak orang. Mulus gitu, diikuti dengan penokohan yang juga pas, gak berlebih, gak sempurna amat. Curcol dikit nih ya, saya mengerti rasa yang dilalui Nuna ketika menyukai atau lebih tepatnya mengagumi seorang. Saya rasa perasaan itu juga ada momennya, ketika perasaan suka kita dibalas saat kita menyukainya, ya berarti berbalas. Lain halnya ketika kita menyukai seseorang lalu orangnya menghilang, setelah kembali perasaan itu mungkin banget kehilangan momennya. Mungkin itu yang dirasakan Nuna pada Arfat. Ini adalah buku perkenalan saya dengan penulis Ria N. Badaria, dimulai dengan baik sih. Saya merasa cara bercerita Ria juga enak dan mengalir baik walau memang ada beberapa pengulangan yang rasanya kurang diperlukan, seperti kata 'dead air'.

  9. 4 out of 5

    Aulia Rofiani

    Akhirnya nemu bacaan ringan lagiii 😍 Konfliknya simpel, tapi terasa kebanyakan scene sakit-sakitan dan ujan2an sih, jadi kurang beragam aja kondisi yg mempertemukan si writer dan editor ini Yang ga aku sangka adalah endingnya, cukup beda dan tereksekusi dengan baik Tapi sayang nih pergulatan emosinya cuma nyampe level giggles aja sama romansanya Adegan yang menyayat hati tokohnya kurang terasa dan relate di gue gitu Oh iya ada satu yg mengganjal, seriusan itu novelnya Nuna diceritain 6 kali dicetak u Akhirnya nemu bacaan ringan lagiii 😍 Konfliknya simpel, tapi terasa kebanyakan scene sakit-sakitan dan ujan2an sih, jadi kurang beragam aja kondisi yg mempertemukan si writer dan editor ini Yang ga aku sangka adalah endingnya, cukup beda dan tereksekusi dengan baik Tapi sayang nih pergulatan emosinya cuma nyampe level giggles aja sama romansanya Adegan yang menyayat hati tokohnya kurang terasa dan relate di gue gitu Oh iya ada satu yg mengganjal, seriusan itu novelnya Nuna diceritain 6 kali dicetak ulang dalam kurun waktu 2 tahun (kurang lebih)? Kok ya kurang believable gtu 😂 jadi bikin sayang aja sih, kesan hebat si Nuna dan Rengga ini dalam berkolaborasi kaya berlebihan diceritakannya dan kurang realistis Eh tapi ga tau sih, gue mah ga percaya ada novel yg 6 kali cetak ulang dlm waktu 2 tahun aja 😅

  10. 4 out of 5

    Husni Mubarok

    Salut untuk novel ini. Jarang novel yang mengangkat tentang kisah penulis dan editornya

  11. 4 out of 5

    Viktoria

    Hidup Nuna berubah total semenjak ia dihubungi bahwa naskahnya diterima di sebuah penerbit. Ia yang hanya karyawan sebuah swalayan pun harus berurusan dengan editornya di penerbit GlobalBooks, Rengga. Tapi karena Nuna tidak punya ponsel, Rengga sulit menghubungi Nuna. Selain itu, Rengga juga disulitkan oleh Marsya, pacarnya, yang sifat konsumtifnya akan aksesoris semakin menguras rekeningnya. Bahkan ketika Nuna mempunyai ponsel, kesulitan tetap saja datang. Seperti saat Rengga menelepon di saat N Hidup Nuna berubah total semenjak ia dihubungi bahwa naskahnya diterima di sebuah penerbit. Ia yang hanya karyawan sebuah swalayan pun harus berurusan dengan editornya di penerbit GlobalBooks, Rengga. Tapi karena Nuna tidak punya ponsel, Rengga sulit menghubungi Nuna. Selain itu, Rengga juga disulitkan oleh Marsya, pacarnya, yang sifat konsumtifnya akan aksesoris semakin menguras rekeningnya. Bahkan ketika Nuna mempunyai ponsel, kesulitan tetap saja datang. Seperti saat Rengga menelepon di saat Nuna sedang kerja, tiba-tiba atasan Nuna yang supergalak datang, otomatis Nuna memutuskan sambungan teleponnya. Membuat Rengga keki setengah mati. Alhasil, ia dan Radit, teman sesama editor, berniat mengerjai Nuna; dengan cara membuat Nuna (secara paksa) membayar semua pesanan ketika mereka (plus Radit) ketemuan di restoran. Alasannya sih, untuk membahas kelanjutan novel Nuna. Sejak saat itu pula, Nuna jadi membenci Rengga dan Radit. Kemudian, di kantor Rengga kedatangan Kepala Redaksi Fiksi (alias atasan Rengga) yang baru, Arfat. But hey, siapa sangka, ternyata Arfat adalah saudara jauh Nuna—sekaligus teman kecil Nuna? Kedekatan mereka yang tercipta setelah 6 tahun tidak bertemu itu tanpa disadari membuat Rengga gampang menghubungi Nuna sekaligus saling mendekatkan keduanya—dan menghapus segala imej buruk masing-masing. Walau Rengga harus berterimakasih pada Arfat karena itu, tapi mengapa hati Rengga terasa mengganjal ketika melihat kedekatan Arfat dan Nuna yang memang tidak biasa? Sementara bagaimana juga Nuna harus menata hatinya ketika Rengga selalu muncul di saat ia butuh pertolongan tapi di saat yang lain menghancurkan harapannya karena kata-kata sinisnya? Keadaan semakin diperburuk, ketika Marsya terus muncul dan Arfat menguak kebenaran tentang dirinya... “Tapi dengan membiarkan orang yang kita cintai bahagia seharusnya sakit itu bisa kita tolerir.” (hlm.274) Hm. Oke, review di atas agak lebay, maaf ya, tapi memang itulah kebenarannya (y). Ceritanya umum sih. Agak menjurus ke drama Korea , karena memang si Nuna suka drama Korea gitu. Dan hey, ternyata yang ada di drama Korea malah menimpa dirinya. Bukannya berbunga-bunga karena ‘ketimpa bibit-bibit unggul’ (mengutip kata-kata temannya Nuna), Nuna malah deg-degan, cemas, dan galau setengah mati :D “Cinta takkan ada artinya kalau untuk mendapatkannya kita menyakiti orang yang kita sayangi.” (hlm.292) Gaya bahasanya udah enak, tapi untuk alur ada yang mengganjal di (spoiler!) bagian kedatangan Marsya ke kantor Rengga. Kemunculannya seperti dipaksakan untuk lebih membakar suasana antara Rengga dan Nuna. Apalagi tidak dijelaskan gimana bisa Marsya ‘tobat’ dan juga kelanjutan Marsya dan Rengga setelah bertemu. Juga adegan di (spoiler!) bandara itu. Jadi bikin makin mirip drama deh. Mengenai karakter, saya suka karakter Radit :D. Dia lucu, mood maker, dan obrolannya dengan Rengga serta celetukan ringannya membuat suasana novel ini tidak melulu menye-menye dan mellow. Apalagi ketika ia mendengar perkembangan kisah cinta Rengga. Adaaa saja komentarnya untuk membangun mood Rengga yang pada akhirnya cuma bikin Rengga makin bingung dan jadi kesal pada Radit. XD Overall, ceritanya bisa ditebak walaupun tetap bikin ketar-ketir sampe ke endingnya. Penulis benar-benar jago memainkan emosi pembacanya. Dan ah, tak lupa untuk amanat yang merujuk pada lika-liku kehidupan Nuna: “Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana atau kehendak manusia. Akan selalu ada kejutan di setiap sesinya, entah kejutan itu akan berakhir menyenangkan atau tidak, tergantung dari mana kita sebagai pelaku hidup ini melihatnya. Maka di sinilah manusia, pelakon hidup yang harus siap menghadapi kehidupan yang penuh misteri, dengan atau tanpa rencana.” (hlm.307)

  12. 4 out of 5

    Eka Masih SMA

    Hm.. 3 bintang, lah. Lumayan. Aku sih tak mandang dia siapa (ini, yang nulis). Dia pernah meraih gelar apa kek, tak pedulilah.. aku fokus pada buku ini saja. Siapapun yang nulis, hm... menurutku lumayan. Gaya tulisannya apik, walau di beberapa bagian terkadang ada kalimat yang 'klise banget' atau tak enak dibaca, atau bahkan sangat menunjukkan bahwa 'kosakata' penulis kayaknya nggak luas, karena kalimatnya itu itu doang. Tapi so far, dia menulisnya sangat apik (setidaknya jauuuuhhh lebih baik dari Hm.. 3 bintang, lah. Lumayan. Aku sih tak mandang dia siapa (ini, yang nulis). Dia pernah meraih gelar apa kek, tak pedulilah.. aku fokus pada buku ini saja. Siapapun yang nulis, hm... menurutku lumayan. Gaya tulisannya apik, walau di beberapa bagian terkadang ada kalimat yang 'klise banget' atau tak enak dibaca, atau bahkan sangat menunjukkan bahwa 'kosakata' penulis kayaknya nggak luas, karena kalimatnya itu itu doang. Tapi so far, dia menulisnya sangat apik (setidaknya jauuuuhhh lebih baik dari aku hehe). Lalu, untuk cerita... hm.. secara aku sudah baca review review di GR jadi aku ya biasa aja. maksudku, aku gak kayak yang lain, yang punya ekspektasi bahwa buku ini tentang kisah Writer Vs Editor yang benar-benar memang memperlihatkan tentang kegiatan Writes vs Editor itu (mungkin mengharapkan bagaimana si Editor berkerja sama dengan si writer dalam membenahi tulisan sebelum naik cetak), tapi yang ada malah kisah cinta ala ala FTV ^^; Dan ya! Ini memang cerita ala-ala FTV banget. makanya ketebak banget dari awal. Cuma judulnya aja yang bikin 'wah'. Writer vs Editor. Padahal kisahnya ya seputar cinta antara dua insan yang njelimet karena ada pihak-pihak lain juga yang menaruh 'harapan dan cinta'. Ini sih kayak FTV-FTV yang judulnya aja keren-keren : 'Majikan vs Pembantu' 'Tukang laundry dan tukang Bubur' 'Cintaku dibawa lari tukang jamu' dll. Judulnya keren-keren, tapi kisah ceritanya ya gitu aja, seputar cinta dua insan aja sebenarnya. Novel ini juga dibumbui denga ala-ala drama Korea yang mana seorang gadis biasa nan miskin kejatuhan cinta 2 cowok ganteng dan keren (kalau kata penulisnya sih 'bibit unggul) lalu kebingungan harus milih yang mana. Hmp! Jadi lah komplit, ini cerita gabungan FTV vs drama korea. Makanya kan ketebak banget jadinya alur cerita ini. Itu sebabnya aku yang biasanya baca novel bisa 3 hari baru kelar (itu pun minimal, biasanya maksimal seminggu), eh bisa menghabiskan buku ini dalam waktu 2-3 jam saja, sodara-sodara! Kenapa? ya karena bacanya emang cepat, secara udah tahu juga ceritanya mau dibawa kemana, dan ketebak banget karakter-karakter tokohnya, jadinya gak perlu menyelami dalam-dalam, sekali baca, balik halaman, baca, balik halaman, begitu terus dengan lancar jaya sampai ending! Gak sulit menghabiskan buku ini... lol Yang bikin aku betah baca salah satunya adalah tokoh Rengga. Sang editor. Sebenarnya gaka da specialnya sih dengan rengga ini. Ya dia tipikal cowok idaman di novel-novel, ganteng, keren, jutek, cool dll. Cuma gak tau kenapa ada yang beda aja pas baca karakter yang satu ini. Begitu mengenal karakternya di halaman pertama, aku langsung punya bayangan seperti apa wajah Rengga. Tau nggak pemain di film Merry Riana, Mimpi Sejuta dolar? Bukan... bukan yang ceweknya, alias Chelse islan. bukan! Tapi yang jadi pacarnya Merry Riana di film. Gak tahu saya namanya hahaha. Tapi, iya, wajah itu yang langsung terbayang di otakku sebagai Rengga. Cocok banget!! Ada yang pernah nonton Tetangga Masa Gitu? Itu sitkom di Net TV. Nah, cowok ini juga main di situ walau bukan tokoh utama. Dia munculnya sesekali aja di epiosde-episode tertentu, dan dia jadi bosnya Sophia Muller, bernama Freddy Spak! Nah.. kalau pernah nonton, pasti tahu kan Freddy Spak itu orangnya gimana? Nah, persis seperti itu lah aku mendapatkan gambaran sosok Rengga! Gayanya, mimik mukanya, cara bicaranya, tatapannya, gerak-geriknya, semuaaannnyyaaaaaa, PERSIS!! Sedangkan untuk karakter cewek alias si Writer aku nggak kebayang siapa-siapa, lol.

  13. 4 out of 5

    Rika Fitrisa

    Percaya atau tidak, saya berhasil menyelesaikan membaca novel ini dalam waktu empat jam, tanpa jeda sedikitpun. Emang ceritanya menarik? Kalau menurut saya, awal-awal bab memang terasa membosankan, cerita segitiga yang mainstream, dan ending yang sudah ketebak bakal seperti apa. Tapi entahlah, saya tidak bisa berhenti membaca karena penasaran dengan cara penulis menyelesaikan hubungan Nuna-Arfat-Rengga. Karena kalau jadi Nuna saya juga pasti bingung kalay harus memilih salah satu dari Arfat dan Percaya atau tidak, saya berhasil menyelesaikan membaca novel ini dalam waktu empat jam, tanpa jeda sedikitpun. Emang ceritanya menarik? Kalau menurut saya, awal-awal bab memang terasa membosankan, cerita segitiga yang mainstream, dan ending yang sudah ketebak bakal seperti apa. Tapi entahlah, saya tidak bisa berhenti membaca karena penasaran dengan cara penulis menyelesaikan hubungan Nuna-Arfat-Rengga. Karena kalau jadi Nuna saya juga pasti bingung kalay harus memilih salah satu dari Arfat dan Rengga, keduanya sama-sama bibit unggul sih. Hehe.... Dan saya lega karena pada akhirnya mereka semua bahagia. Tokoh yg paling membuat novel ini terasa segar adalah Radit dengan karakternya yang ceria dan sering ngomong ceplas-ceplos. Pokoknya lucu apalagi kalau udah dialog bareng Rengga, kerasa banget kuatnya persahabatan diantara mereka. Satu hal yg kurang dari novel ini adalah adanya beberapa typo yg saya temukan di beberapa halaman, ada di lima halaman kalau gak salah (hal 107, 134, 152, yg lainnya lupa) dan juga adanya kata dead air yg terlalu sering diulang di semua bab, jadi kurang nyaman aja bacanya. Tapi secara keseluruhan ceritanya menarik.

  14. 4 out of 5

    mei

    Penasaran baca ini dari lamaaa bangwt. Alhamdulillah kesampaian juga baca. Dan, ugh, ceritanya ftv banget yha T_T Meski saya gak suka ceritanya (dan asli, gampang ditebak banget adegan selanjutnya apaan), tapi saya lumayan suka dengan nama tokohnya. Jadi ya, jadi, saya kebetulan sedang dekat dengan seseorang bernama Rangga dan punya adik namanya radit. Di buku ini namanya Rengga sih. Tapi mirip2 lah TAPI MEREKA SAMA-SAMA DARI BATAM! penting gak sih gituan?wqwqwq Tapi itu yg bikin saya betah baca. Pena Penasaran baca ini dari lamaaa bangwt. Alhamdulillah kesampaian juga baca. Dan, ugh, ceritanya ftv banget yha T_T Meski saya gak suka ceritanya (dan asli, gampang ditebak banget adegan selanjutnya apaan), tapi saya lumayan suka dengan nama tokohnya. Jadi ya, jadi, saya kebetulan sedang dekat dengan seseorang bernama Rangga dan punya adik namanya radit. Di buku ini namanya Rengga sih. Tapi mirip2 lah TAPI MEREKA SAMA-SAMA DARI BATAM! penting gak sih gituan?wqwqwq Tapi itu yg bikin saya betah baca. Penasaran gimana kisah mereka. Dan rengga dalam bayangan saya ya rangga-nya saya wq Sebenernya pengen kasih 2 bintang. Tp karena saya suka sampul dan nama tokohnya tadi jadi 3 aja. Dan oh, saya gak bisa bayangin wajah Kak Arfat yg katanya ganteng banget itu gimana. Saya pernah punya klien namanya arfat juga dan dia adalah bapak2 berperut buncit yg mesum bukan main jadi yha..saya mbayangin beliau. Kutipan kesukaan kayaknya nggak ada. Dan oh, saya juga benci pengulangan kata dead air. *Dead air*

  15. 4 out of 5

    Agista Saraswati

    Ditulis oleh penerima penghargaan Penulis Terbaik Khatulistiwa Literary Award, Rina N. Badarini novel metropop ini merupakan teman santai yang hangat dan cukup manis. Penulis cerdas membawa pembaca terhanyut dalam plot yang licin, naik-turun dengan akhir yang setengah sulit terduga. Kalau Anda ingin menghabiskan liburan dengan membaca beberapa metropop ringan, Saya sarankan Anda menjatuhkan pilihan pada novel berjudul Writer vs Editor ini. Ringan tetapi memiliki cerita yang tidak klise dan kacan Ditulis oleh penerima penghargaan Penulis Terbaik Khatulistiwa Literary Award, Rina N. Badarini novel metropop ini merupakan teman santai yang hangat dan cukup manis. Penulis cerdas membawa pembaca terhanyut dalam plot yang licin, naik-turun dengan akhir yang setengah sulit terduga. Kalau Anda ingin menghabiskan liburan dengan membaca beberapa metropop ringan, Saya sarankan Anda menjatuhkan pilihan pada novel berjudul Writer vs Editor ini. Ringan tetapi memiliki cerita yang tidak klise dan kacangan. Berkisah tentang perjuangan wanita pegawai swalayan biasa, Nuna yang hidup sederhana dengan tampilan fisik sederhana pula, dalam menggapai impian untuk menjadi penulis. Awalnya dia hanya mencoba mengirimkan naskah novelnya ke beberapa penerbit dan sering ditolak. Keberuntungan justru menyertainya ketika GlobalBooks tertarik pada naskah novelnya dan berniat menerbitkan karyanya itu. Nuna yang awalnya hanya seorang gadis biasa penggila drama Korea tiba-tiba secara beruntun ketiban rejeki. Rejeki ditaksir editornya yang merupakan pemuda bibit unggul, Rengga juga pertemuan kembali dengan cinta tak terbalasnya di masa lalu, Arfat yang kemudian menjabat sebagai atasan editornya. Kisah cinta segitiga sederhana namun rumit diolah dengan baik oleh penulis sehingga pembaca tidak memandang cerita novel ini picisan dan terlalu klise. Nuna yang memiliki karakter polos dan bersahaja digambarkan sedang dalam dilema besar ketika dua orang bibit unggul sama-sama menyukainya. Tetapi perasaan tak bisa berbohong akhirnya, meski Nuna sangat bahagia ketiban cinta Arfat, Ia tak bisa menampik kalau editornya yang mulanya sadis dan kejam terhadapnya menaruh perasaan padanya. Akhirnya, setelah konflik berkepanjangan, ending bahagia pun dihadirkan. Si Penulis bersanding juga dengan si Editor. Hal yang tidak membuat novel ini terlalu klise adalah penggambaran situasi terjepit Nuna yang tidak mau menyia-nyiakan orang yang kembali untuknya di masa lalu serta keengganannya mengakui bahwa dia memiliki perasaan yang sama terhadap editor yang mencintainya juga. Dan karena novel ini pula kita jadi tahu asal-usul sebuah penulis amatir bisa menjadi penulis terkenal, asal-usul naskah novel menjadi novel yang siap cetak. Apalagi dengan alur yang naik turun, penulis membuat pembaca tidak akan merasa bosan menikmati novel setebal 307 halaman ini. Jadi, silahkan membaca!

  16. 5 out of 5

    Hayati

    “Hidup memang terkadang seimbang, tanpa kita sadari terkadang terjadi proses keseimbangan dalam hidup ini. Kemarin kita bisa ditempa berbagai masalah yang membuat kita merasa hidup ini terlalu berat untuk dijalani. Tapi hari ini atau besok, bisa saja terjadi hal sebaliknya, yang membuat kita kembali bersemangat.” Nuna hanyalah seorang pegawai supermarket yang memiliki mimpi untuk menjadi penulis terkenal seperti J.K. Rowling, sedangkan Rengga adalah seorang editor sukses yang bekerja di salah sa “Hidup memang terkadang seimbang, tanpa kita sadari terkadang terjadi proses keseimbangan dalam hidup ini. Kemarin kita bisa ditempa berbagai masalah yang membuat kita merasa hidup ini terlalu berat untuk dijalani. Tapi hari ini atau besok, bisa saja terjadi hal sebaliknya, yang membuat kita kembali bersemangat.” Nuna hanyalah seorang pegawai supermarket yang memiliki mimpi untuk menjadi penulis terkenal seperti J.K. Rowling, sedangkan Rengga adalah seorang editor sukses yang bekerja di salah satu penerbit terbesar di Indonesia, tetapi memiliki mimpi untuk menjadi jurnalis di stasiun TV. Takdir mempertemukan mereka untuk menjadi rekan kerja. Novel yang Nuna tulis akhirnya diterima oleh penerbit dan akan di cetak. Tetapi jalan yang harus mereka lalui sebagai rekan kerja tidaklah mulus. Karena Nuna dianggap penulis pemula yang amatir dan tidak profesional oleh Rengga. Tapi siapa sangka ternyata dari kedekatan antara penulis dan editor yang sering bertengkar ini mulai tumbuh benih-benih cinta. Akan tetapi apakah mereka bisa bersatu padahal masing-masing dari mereka memiliki pasangan. Jadi endingnya seperti apa? Silahkan di baca selengkapnya. Hmmm, saat baca judulnya jujur aku cukup tertarik karena sejauh aku baca novel selama ini belum pernah ketemu novel yang temanya tentang cinta antara penulis dan editor. Temanya sangat bagus, tapi sayangnya saat membaca novel ini nggak ada yang spesial. Jalan ceritanya nggak jauh beda sama novel-novel lain yang bercerita tentang cinta biasa. Yah, itu menurut pendapat aku. Nothing special when i’m reading this novel. Padahal temanya sudah cukup bagus menceritakan tentang kisah cinta antara penulis dan editor. Hal positif yang aku dapatkan saat membaca novel ini adalah “bahwa jika kita memiliki mimpi atau cita-cita jika ada kemauan yang kuat maka kita akan bisa mewujudkan mimpi tersebut. Tetaplah berusaha jangan pantang menyerah.” “Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana atau kehendak manusia. Akan selalu ada kejutan di setiap sesinya, entah kejutan itu akan berakhir menyenangkan atau tidak tergantung darimana kita sebagai pelaku hidup ini melihatnya. Maka di sinilah manusia, pelakon hidup yang harus siap menghadapi kehidupan yang penuh misteri, dengan atau tanpa rencana...”

  17. 5 out of 5

    Diego Christian

    Hidup Nuna benar-benar berubah ketika naskah yang selama ini dipikirnya telah sia-sia dikirimkan ke sebuah penerbit mendapat jawaban bahagia yang diinginkan oleh semua penulis di muka bumi: naskahnya diterima oleh sebuah penerbit untuk diterbitkan. Bagi Nuna yang seorang pramuniaga biasa di sebuah toko swalayan di kota Bogor adalah hal yang luar biasa mendapatkan bahwa pada akhirnya ia akan menjadi seorang penulis. Tapi sayangnya tidak, semuanya tidak berakhir bahagia saat itu melainkan segalany Hidup Nuna benar-benar berubah ketika naskah yang selama ini dipikirnya telah sia-sia dikirimkan ke sebuah penerbit mendapat jawaban bahagia yang diinginkan oleh semua penulis di muka bumi: naskahnya diterima oleh sebuah penerbit untuk diterbitkan. Bagi Nuna yang seorang pramuniaga biasa di sebuah toko swalayan di kota Bogor adalah hal yang luar biasa mendapatkan bahwa pada akhirnya ia akan menjadi seorang penulis. Tapi sayangnya tidak, semuanya tidak berakhir bahagia saat itu melainkan segalanya baru dimulai oleh seorang penulis pemula sekaliber Nuna. Sang Editor, Rengga, begitu kesal kepada Nuna karena menganggap dirinya sok karena tidak pernah mau mengangkat telepon darinya untuk mengurus naskahnya agar segera naik cetak. Kesalahpahaman itu mengakibatkan saling dendam yang kemudian (tentu saja) berubah menjadi perasaan cinta dan (tentu saja) dengan segala lika-likunya. Perasaan mereka berkali-kali diuji oleh serangkaian peristiwa yang membuat penulis dan editor ini saling terlibat konflik yang dijalin oleh penulis Writer VS Editor ini. Ria N. Badaria adalah penulis yang layak diperhitungkan karena novel sebelumnya Fortunata mendapat penghargaan Khatulistiwa Literary Award kategori penulis muda berbakat tahun 2009 (Ya Tuhan, saya mau banget dapet penghargaan ini nanti. Amin). Gaya bahasa dan jalinan cerita di dalamnya cukup baik, meskipun ada bagian yang menurut saya kurang logis. Beberapa di antaranya adalah kurangnya rasa bahagia pada Nuna ketika menyadari novelnya akan diterbitkan oleh GlobalBooks, kemudian terdapat (lumayan) banyak konflik yang merangkai Nuna dengan Rengga. Kembalinya Marsya pada Rengga di akhir cerita menurut saya membuat cerita berjalan semakin lambat dan membuat pembaca mulai bertanya, "Ini cerita kapan selesainya?" Karakter yang cukup kuat, plot yang rapi, adegan yang terasa alami, dan kejutan di beberapa bagian sebelum ending adalah kekuatan novel ini. Ria mampu menceritakan hampir semua adegan di dalamnya terasa real dan alami. Masalah gaya tulisan jangan ditanya lagi, Ria benar-benar matang menggarap novel ini

  18. 4 out of 5

    amanda s.

    2.5 stars, lebih karena ceritanya yang terlalu klise. Sebenernya sih aku suka sama cerita yang klise, macam CEO jatuh cinta sama anak kuliahan, secret baby atau romance yang Twilight-ish. Alur yang gampang ditebak, in a way, bikin aku nyaman karena aku paling benci plot-twist. Nah, aku beli buku ini karena tertarik sama cover dan sinopsisnya. Editor galak? Yum. Apalagi editor galak yang ujung-ujungnya bertekuk lutut di kaki si penulis. Kurang menjanjikan apa coba? Jalan cerita yang ending-nya su 2.5 stars, lebih karena ceritanya yang terlalu klise. Sebenernya sih aku suka sama cerita yang klise, macam CEO jatuh cinta sama anak kuliahan, secret baby atau romance yang Twilight-ish. Alur yang gampang ditebak, in a way, bikin aku nyaman karena aku paling benci plot-twist. Nah, aku beli buku ini karena tertarik sama cover dan sinopsisnya. Editor galak? Yum. Apalagi editor galak yang ujung-ujungnya bertekuk lutut di kaki si penulis. Kurang menjanjikan apa coba? Jalan cerita yang ending-nya sudah ketahuan dari awal dan emang mood yang lagi pengin baca cerita unyu-unyu, bikin aku semangat buat beli baca buku ini. Sayangnya, cerita yang ditulis sedikit melenceng jauh dari harapanku. Si editor, Rengga, terlalu lembek untuk dibilang galak. Si penulis itu sendiri, Nuna, personally buat aku, nggak ada karakternya sama sekali. Aku berharap bisa dapet kesan keras kepala atau pemberani dari Nuna, tapi malah nggak kerasa apa-apa. Aku suka essence(halah) romantis di buku ini, walaupun sangat amat kelihatan kalau penulis, Ria N. Badaria, sering banget nonton drama Korea. Terlalu nggak masuk akal dan manis berlebihan. Nggak dipungkiri, siapa sih yang nggak suka romance-nya drama Korea? Tapi aku berharapnya penulis bisa bikin romance drama Korea itu masuk di suasana romance-nya orang Indonesia. Hari gini, mana ada sih anak cowok yang baiknya naudzubillah dan lembut-bikin-merinding macam Kak Arfat? Yeah, you know what I mean. Bahasanya juga kadang terlalu dipaksa dan agak aneh. Kalau baca buku Indonesia, aku suka baca percakapan antar karakter keras-keras buat lihat pas apa nggak. Dan untuk buku ini, lebih sering nggak pasnya. Hmm. Could be so much better. Intinya, buku ini cukup lumayan buat dibaca kalau lagi nunggu seseorang atau sekedar ngabisin waktu. Dan overall aku yakin Ria N. Badaria bisa nulis lebih baik dan lebih nggak "umum" dibandingkan ini. Good luck!

  19. 5 out of 5

    Ayu Fitri

    Aku kasih 2.5 bintang. Hmm.. Apa ya? Kayaknya aku berharap terlalu tinggi deh waktu mau baca novel ini. Ujung-ujungnya aku kecewa sendiri setelah selesai baca. Tema yang diangkat mbak Ria bagus kok. Yang menurutku kurang pas justru judulnya. Kalo ada kata "vs", di pikiranku tuh hubungan 2 orang yang selalu bersitegang, tapi hubungan mereka juga dibumbui hal-hal kocak dan romantis gitu. Di novel ini cuma di bagian awal aja yang nunjukkin Nuna bersitegang sama Rengga. Selebihnya hubungan mereka berdua mala Aku kasih 2.5 bintang. Hmm.. Apa ya? Kayaknya aku berharap terlalu tinggi deh waktu mau baca novel ini. Ujung-ujungnya aku kecewa sendiri setelah selesai baca. Tema yang diangkat mbak Ria bagus kok. Yang menurutku kurang pas justru judulnya. Kalo ada kata "vs", di pikiranku tuh hubungan 2 orang yang selalu bersitegang, tapi hubungan mereka juga dibumbui hal-hal kocak dan romantis gitu. Di novel ini cuma di bagian awal aja yang nunjukkin Nuna bersitegang sama Rengga. Selebihnya hubungan mereka berdua malah galau-galauan dan menye-menyean. Jujur, aku ngerasa bosen waktu baca novel ini. Kayak nggak ada ketertarikan buat cepet-cepet selesai makanya bacanya agak lama. Maaf ya, mbak Ria. Menurutku gaya penulisan mbak Ria oke kok. Mungkin pemilihan katanya yang masih kaku di kupingku jadinya aku bosen waktu baca. Jujur aja aku ngerasa hubungan Nuna-Rengga nggak cukup romantis karena diksinya menurutku kurang berhasil membangun suasana. Hambar aja gitu menurutku. Maaf lagi, mbak Ria. Tapi mbak Ria tenang aja, hehe. Aku tetep berniat beli novel-novel mbak Ria yang lain kok meskipun kecewa sama novel ini. Aku paling penasaran sama novel Fortunata yang berhasil bikin mbak Ria jadi Penulis Muda Berbakat Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2008-2009. Dari yang aku baca, novel itu ceritanya agak-agak mirip film Just Like Heaven. Dan jujur, aku udah berharap terlalu tinggi lagi nih sama novel itu. Apalagi berkat novel itu mbak Ria menang. Duh, nggak usah jauh-jauh dulu deh mikirnya, beli novelnya aja belum :)) http://thecloudsinautumn.tumblr.com/p...

  20. 4 out of 5

    Pratiwi Utaminingsih

    Pasti gemes bin geregetan yah kalo kita sebagai seorang penulis dihadapkan sama editor yang super menyebalkan? Iya, itulah yg Nuna R. Mirja hadapi saat ini. Nuna adalah seorang penulis pemula yang karya pertamanya akan diterbitkan oleh GlobalBooks. Nah inilah masalahnya, alih-alih ketiban durian runtuh, Nuna malah dapat editor yang galak. Sebut saja Rengga Adi Prayoga, seorang jurnalis gagal yang akhirnya malah nyemplung ke dunia penerbitan, oalah! Tapi tapi tapi, kekesalan Rengga akan Nuna buka Pasti gemes bin geregetan yah kalo kita sebagai seorang penulis dihadapkan sama editor yang super menyebalkan? Iya, itulah yg Nuna R. Mirja hadapi saat ini. Nuna adalah seorang penulis pemula yang karya pertamanya akan diterbitkan oleh GlobalBooks. Nah inilah masalahnya, alih-alih ketiban durian runtuh, Nuna malah dapat editor yang galak. Sebut saja Rengga Adi Prayoga, seorang jurnalis gagal yang akhirnya malah nyemplung ke dunia penerbitan, oalah! Tapi tapi tapi, kekesalan Rengga akan Nuna bukanlah sepenuhnya kesalahan Rengga. Nuna juga sih pake acara ga punya handphone, susah diajak kerja sama delele. Yup! Itulah sepenggal kisah dari novel Writer VS Editor karya Ria N. Badaria. Jujur hal yang membuat saya tertarik untuk membeli novel ini adalah embel-embel “Penulis Muda Berbakat Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2008-2009” yang bikin saya “wow! Pasti buku ini keren dan unik.” Tapiii, setelah dibaca, well umm not bad sih. Cuma cerita di novel ini kok terkesan dipaksakan ya? Dan terdengar seperti dongeng-dongeng seorang putri rakyat jelata yang diperebutkan dua pangeran berkuda putih, awww! :D Laluu, jika dilihat dari bahasa, novel ini terlihat seperti teenlit dan ada beberapa kalimat yang saya ga mudheng bacanya :| To be honest I expect more dari sang penulis untuk lebih mengembangkan cerita. Karena ide awal tentang pekerjaan sebagai novelis dan editor adalah hal baru yang diangkat. Dan novel ini memberi wawasan baru tentang bagaimana susahnya menembus dunia penerbitan. Deeply hope next novel dari Ria N. Badaria lebih unik dan tidak terlalu ke-fairytale-an dan bahasanya lebih ditingkatkan.

  21. 5 out of 5

    Yunita1987

    Cerita ini sepertinya mirip-mirip banget dengan kisah cinta yang ada didrama-drama korea deh. Menceritakan tentang Nuna yang berharap bisa menjadi penulis terkenal seperti pengarang harry potter...:D tapi kenyataannya tidak ada penerbit yang mengajaknya untuk bekerja sama, sehingga hari-harinya Nuna hanya untuk menjadi penjaga disebuah supermarket *moga gak salah deh, uda lama bacanya* Tetapi keajaiban terjadi karena ada penerbit yang berencana untuk mencetak bukunya tersebut dengan Rengga sebaga Cerita ini sepertinya mirip-mirip banget dengan kisah cinta yang ada didrama-drama korea deh. Menceritakan tentang Nuna yang berharap bisa menjadi penulis terkenal seperti pengarang harry potter...:D tapi kenyataannya tidak ada penerbit yang mengajaknya untuk bekerja sama, sehingga hari-harinya Nuna hanya untuk menjadi penjaga disebuah supermarket *moga gak salah deh, uda lama bacanya* Tetapi keajaiban terjadi karena ada penerbit yang berencana untuk mencetak bukunya tersebut dengan Rengga sebagai editor. Rengga yang sempat pusing dibuat tingkah lakunya penulis barunya tersebut dikarenakan sangat sulit untuk berkomunikasi dengan penulisnya apalagi penulis tersebut tidak memiliki alat komunikasi seperti handphone. Perjalanan dalam hal pembuatan buku ini, membuat hubungan antara Rengga dengan Nuna semakin dekat sampai akhirnya mereka tidak menyadari bahwa mereka sendiri sebenarnya memiliki perasaan cinta tetapi hanya bisa dipendam didalam hati mereka. Keseluruhan ceritanya, aku suka banget, apalagi tokoh utamanya, si Nuna memiliki hobi yang sama denganQ, sama-sama suka nonton drama korea....hehehe

  22. 5 out of 5

    Dini Novita Sari

    Tiga setengah bintang tepatnya. Konfliknya sederhana, tapi entah kenapa nyaman aja bacanya. Nggak meledak-ledak, tetapi tetap bisa dinikmati. Tapi memang di beberapa bagian kerasa kalimatnya kaku saat dibaca, makanya tidak bisa menggenapkan menjadi empat bintang. Di bagian-bagian awal merasa jengah dengan tindakan editor yang bisa membawa citra buruk profesi ini #yaelaaah hehehe. Tapi sebenernya tahu maksudnya kalau dia cuma ngerjain si penulis karena merasa jengkel. Well overall, I like the sto Tiga setengah bintang tepatnya. Konfliknya sederhana, tapi entah kenapa nyaman aja bacanya. Nggak meledak-ledak, tetapi tetap bisa dinikmati. Tapi memang di beberapa bagian kerasa kalimatnya kaku saat dibaca, makanya tidak bisa menggenapkan menjadi empat bintang. Di bagian-bagian awal merasa jengah dengan tindakan editor yang bisa membawa citra buruk profesi ini #yaelaaah hehehe. Tapi sebenernya tahu maksudnya kalau dia cuma ngerjain si penulis karena merasa jengkel. Well overall, I like the story. Mengenai karakter, bisa dibilang sama rata sih, saya nggak bisa menunjuk mana yang paling favorit. Tapi justru yang paling kuat ya sosok Marsya yang antagonis meski perannya nggak banyak-banyak amat, tetapi tiap kemunculannya menimbulkan kesan yang kuat. Oh ya, sama Radit, sahabat Rengga yang suka kepo sama urusan Rengga. Lumayan berisik, tetapi perannya banyak membantu Rengga untuk "bergerak". Justru pemeran2 pendukung ini yang kesannya malah kuat bagi saya. :D Resensi lengkap: http://dinoybooksreview.wordpress.com...

  23. 4 out of 5

    Aro~

    Cover buku ini menarik banget. Sayangnya drama soal penulis dan editor cuma terlihat di bagian awal-awal, padahal ku kira bakal menjadi masalah utama yang diulas lebih jauh. Dan tulisan soal penulis muda khatulistiwa emang bikin orang-orang berekspektasi tinggi sama buku ini. Bercerita tentang Nuna yang hidupnya tiba-tiba berubah macam drama korea yang sering ditontonnya. Diperebutkan dua cowok yang punya kualifikasi tinggi, membuat Nuna terjebak dalam dilema berkepanjangan. Jujur aja, aku sebal Cover buku ini menarik banget. Sayangnya drama soal penulis dan editor cuma terlihat di bagian awal-awal, padahal ku kira bakal menjadi masalah utama yang diulas lebih jauh. Dan tulisan soal penulis muda khatulistiwa emang bikin orang-orang berekspektasi tinggi sama buku ini. Bercerita tentang Nuna yang hidupnya tiba-tiba berubah macam drama korea yang sering ditontonnya. Diperebutkan dua cowok yang punya kualifikasi tinggi, membuat Nuna terjebak dalam dilema berkepanjangan. Jujur aja, aku sebal dengan karakter Nuna yang plin-plan dan tak kunjung menentukan pilihan. Tapi ya, ceritanya kan memang tentang cinta segitiga, jadi aku tak bisa menyalahkan penulis yang membuat karakter Nuna menjadi seperti itu. Istilah "dead air" sendiri terasa asing karena aku sendiri nyaris tak pernah menemukannya di cerita mana pun. Meski begitu, ceritanya cukup menarik. Yah, meski sebagian besar review yang kubaca sekilas sepertinya merasa kisahnya terlalu klise. Tapi, kisah cinta setiga sepertinya nyaris selalu seperti ini, kan. Klise dan nyaris tak masuk akal. Buku ini cocok buat kamu yang butuh bacaan ringan dan tak keberatan dengan cerita cinta segitiga yang pasti penuh drama.

  24. 5 out of 5

    Nikita Normalitasari

    Remang - remang. Itu yang bisa aku gambarkan dari novel ini. Ehm, bukan berarti novel ini diangkat dari lokasi night club, bukan. Tapi, novel ini nggak menyuguhkan deskripsi fisik tokoh. Itu yang membuat aku kurang ngeh waktu baca. Rasanya, pembaca disuruh nebak sendiri gimana gantengnya Arfat ataupun Rengga. Soalnya, disitu nggak dipaparkan. Untuk alur, baguslah. Mengalir. Meskipun temanya klise, tentang cinta segitiga. Tapi, menurutku itu bagus. Ohya, novel ini ceritanya juga membumi. Merakyat Remang - remang. Itu yang bisa aku gambarkan dari novel ini. Ehm, bukan berarti novel ini diangkat dari lokasi night club, bukan. Tapi, novel ini nggak menyuguhkan deskripsi fisik tokoh. Itu yang membuat aku kurang ngeh waktu baca. Rasanya, pembaca disuruh nebak sendiri gimana gantengnya Arfat ataupun Rengga. Soalnya, disitu nggak dipaparkan. Untuk alur, baguslah. Mengalir. Meskipun temanya klise, tentang cinta segitiga. Tapi, menurutku itu bagus. Ohya, novel ini ceritanya juga membumi. Merakyat. Jadi, ketika kita baca novel ini, nggak disuguhkan oleh barang - barang yang branded, kecuali yang ada bagian Marsha nya. Tapi, yang membuat aku ngerassa aneh adalah ketika Nuna sadar kalau sebenernya dia sayangnya itu sama Rengga, bukan Arfat. Biasanya orang kalau suka, pasti ngerasa jengahnya itu sama orang nggak kita suka tetapi deket sama kita. Nah, si Nuna ini kebalikannya. Dan Nuna kayaknya nggak marah gitu waktu Rengga nyium dia dalam keadaan sadar. Dia bilang, dia nggak mau ngekhianatin Arfat, tapi waktu dicium dia nggak nampar ataupun menghindar.

  25. 4 out of 5

    Sayfullan

    Saya begitu nggak suka dengan adegan-adegan yang ah—banyak di ftv (seperti hp kecemplung, tiba-tiba sakit, pingsan dst) Padahal saya suka banget ide cerita antara pertarungan sang editor dan penulisnya. Di awal (ketika masih bersiteru) saya begitu menikmatinya, sampai jadian sama bos globalbook, saya masih menikmatinya, tapi ketika mulai dompet ilang, nolong nuna yang demam, ah romantisme itu malah kian terlarung dengan adegan yang biasa-biasa saja. Tapi, saya senang kok sama karakter sahabat Re Saya begitu nggak suka dengan adegan-adegan yang ah—banyak di ftv (seperti hp kecemplung, tiba-tiba sakit, pingsan dst) Padahal saya suka banget ide cerita antara pertarungan sang editor dan penulisnya. Di awal (ketika masih bersiteru) saya begitu menikmatinya, sampai jadian sama bos globalbook, saya masih menikmatinya, tapi ketika mulai dompet ilang, nolong nuna yang demam, ah romantisme itu malah kian terlarung dengan adegan yang biasa-biasa saja. Tapi, saya senang kok sama karakter sahabat Rengga, si Radit yang istrinya hamil itu. Hahhaa sangat menghibur. Dan sekarang saya kok jadi pengin punya editor cantik dan galak... #eh Penasaran daku sama buku pertama mbak Ria dan buku2 yang lainnya. Tetap berkarya yah :D Salam hangat, Sayfullan

  26. 5 out of 5

    Nelly

    Setelah beberapa kali kecewa dengan penokohan di novel2 lokal yg saya baca, rasanya novel ini cukup memuaskan. Memang sih, karakter tokoh-tokohnya tidak digambarkan terlalu menyeluruh, tapi cukup konsisten dan berkesinambungan dalam cerita. Hanya saja, bagaimana Rengga bisa jatuh cinta pada Nuna tetap terasa tiba-tiba dan mendadak atau pengarang hanya kurang bisa membangun dan menggambarkan chemistri di antara mereka? Entahlah... Hanya saja, ekspektasi saya terlalu tinggi untuk gelar Penulis Muda Setelah beberapa kali kecewa dengan penokohan di novel2 lokal yg saya baca, rasanya novel ini cukup memuaskan. Memang sih, karakter tokoh-tokohnya tidak digambarkan terlalu menyeluruh, tapi cukup konsisten dan berkesinambungan dalam cerita. Hanya saja, bagaimana Rengga bisa jatuh cinta pada Nuna tetap terasa tiba-tiba dan mendadak atau pengarang hanya kurang bisa membangun dan menggambarkan chemistri di antara mereka? Entahlah... Hanya saja, ekspektasi saya terlalu tinggi untuk gelar Penulis Muda Berbakat KLA. Rasanya, kok, cuma segini aja, yah? Sedikit kecewa, sih... Hmm, mungkin saya harus baca novelnya yang menang penghargaan itu barangkali.

  27. 4 out of 5

    Yunda Pede

    well.. aku dapat buku ini dari temenku as my birhtday gift.. pas ngeliat covernya yang rame gitu, aku kegirangan sendiri. apalagi waktu ngebaca judulnya "writer vs editor" kayaknya seru nih! awalnya jujur ceritanya agak ngebosenin bagi aku, karena ga menantang, datar gitu aja. aku hampir putus semangat buat ngelanjutin baca. setelah aku sampai pada bab dimana sang writer bertemu dengan si editor, semangatku jadi 45 haha mungkin karena ada kisah cintanya walaupun cerita cintanya klasik ---diawali de well.. aku dapat buku ini dari temenku as my birhtday gift.. pas ngeliat covernya yang rame gitu, aku kegirangan sendiri. apalagi waktu ngebaca judulnya "writer vs editor" kayaknya seru nih! awalnya jujur ceritanya agak ngebosenin bagi aku, karena ga menantang, datar gitu aja. aku hampir putus semangat buat ngelanjutin baca. setelah aku sampai pada bab dimana sang writer bertemu dengan si editor, semangatku jadi 45 haha mungkin karena ada kisah cintanya walaupun cerita cintanya klasik ---diawali dengan benci lalu jadi cinta. but i dunno why, kisah cinta klasik kayak gitu masih punya daya tarik tersendiri buat aku :3

  28. 5 out of 5

    Simbahenom

    OK...buku yang diambil dari rak perpus, karena belakangan lebih sering baca fiksi fantasy, refresh sebentar dengan cerita cinta 2 insan manusia..#halah cukup menyegarkan juga sih, meski ceritanya ya seperti di drama korea..#ups. kalau ada yang protes ini cerita cinta biasa, ya jawab aja emang cerita cinta tu kayak gini, mau digimanain lagi. kalau kita lama ga nyentuh buku tentang cinta-cintaan, sekali baca ya pasti langsung so sweet lagi, beda halnya kalau kita bacanya cinta-cintaan mulu, pasti b OK...buku yang diambil dari rak perpus, karena belakangan lebih sering baca fiksi fantasy, refresh sebentar dengan cerita cinta 2 insan manusia..#halah cukup menyegarkan juga sih, meski ceritanya ya seperti di drama korea..#ups. kalau ada yang protes ini cerita cinta biasa, ya jawab aja emang cerita cinta tu kayak gini, mau digimanain lagi. kalau kita lama ga nyentuh buku tentang cinta-cintaan, sekali baca ya pasti langsung so sweet lagi, beda halnya kalau kita bacanya cinta-cintaan mulu, pasti bosenlah dengan cerita yang gitu2 aja...(mulai nglantur..) paling ga makasih telah bisa merefresh otak saya, nanti saya baca cinta-cintaan lagi kalau saya udah kumat galaunya...^^

  29. 5 out of 5

    Delisa sahim

    PENDAPATKU Nuna adalah wanita yang sangat pengertian terlalu pengertian sampai kehilangan cinta, Rengga sang Editor yng juga "pelencengan hidup" cita-cita jadi reporter malah nyasar menjadi editor fiksi, dua tokoh "lencengan hidup" tetapi berakhir dengan cita-cita mereka... cinta pasti ada aja halangannya... begitu juga antara rengga dan nuna, saat rengga menyadari cintanya kepada nuna, nuna malah berpacaran dengan cinta pertamanya. saat nuna menyadari cintanya kepada rengga, rengga malah pergi dari in PENDAPATKU Nuna adalah wanita yang sangat pengertian terlalu pengertian sampai kehilangan cinta, Rengga sang Editor yng juga "pelencengan hidup" cita-cita jadi reporter malah nyasar menjadi editor fiksi, dua tokoh "lencengan hidup" tetapi berakhir dengan cita-cita mereka... cinta pasti ada aja halangannya... begitu juga antara rengga dan nuna, saat rengga menyadari cintanya kepada nuna, nuna malah berpacaran dengan cinta pertamanya. saat nuna menyadari cintanya kepada rengga, rengga malah pergi dari indonesia... akankah cinta kembali ? baca aja,ya... dijamin mantepppp....

  30. 4 out of 5

    Dita Rizqie Siswojo

    Saya suka background cerita ini, tentang penulis dan editor dimana jarang sekali ada penulis yang mengangkat tema ini.. Ceritanya ringan dan mudah dipahami untuk kategori chicklit, ada unsur dewasanya tapi masih bisa dibaca untuk remaja, tapi sayang banget mba awal ceritanya bagus banget tapi ujungnya kaya ada yang kurang greget gimana gitu. Untuk alur cerita sih udah cukup kompleks, cuma ya kaya yg saya bilang tadi, kaya habis naik tinggi terus di hempas aja ke bawah (ala syahrini). Ditunggu next Saya suka background cerita ini, tentang penulis dan editor dimana jarang sekali ada penulis yang mengangkat tema ini.. Ceritanya ringan dan mudah dipahami untuk kategori chicklit, ada unsur dewasanya tapi masih bisa dibaca untuk remaja, tapi sayang banget mba awal ceritanya bagus banget tapi ujungnya kaya ada yang kurang greget gimana gitu. Untuk alur cerita sih udah cukup kompleks, cuma ya kaya yg saya bilang tadi, kaya habis naik tinggi terus di hempas aja ke bawah (ala syahrini). Ditunggu next novelnya ya mba

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.